kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.910   0,00   0,00%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Sri Mulyani minta negara berkembang waspada


Kamis, 26 September 2013 / 13:59 WIB
Sri Mulyani minta negara berkembang waspada
ILUSTRASI. Tissa Biani dalam perannya sebagai Nur dalam film horor Indonesia terbaru, KKN Di Desa Penari yang telah tembus 6 juta penonton hingga saat ini.


Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. World Bank memperingatkan negara-negara berkembang untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak dari langkah bank sentral AS, Federal Reserve, memangkas stimulus ekonominya.

Managing Director World Bank Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tak ada pilihan lain bagi negara-negara emerging market, kecuali mempersiapkan diri.

“Mereka harus menyiapkan diri dan menyesuaikan pertumbuhan ekonomi, baik level pertumbuhannya maupun pendorong pertumbuhan," jelasnya sebagaimana dikutip dari Bloomberg hari ini, Kamis (26/9/2013).

Sebelumnya, saham-saham di pasar Asian melonjak tajam, setelah the Fed menunda pemangkasan stimulus. Di mana stimulus yang digelontorkan hingga saat ini tetap di level 85 miliar dollar AS per bulan. The Fed beralasan, penundaan tersebut karena perekonomian AS masih belim solid.

Langkah pemangkasan bakal mempengaruhi kondisi perekonomian, terutama nilai tukar mata uang negara-negara emerging market. Bahkan, sejumlah mata uang negara berkembang turun di level terendah dalam 5 tahun terakhir, seperti halnya rupee India dan and lira Turki.

Banyak negara-negara berkembang yang butuh penyesuaian, dengan menurunkan target pertumbuhan ekonominya dan refocusing perekonomiannya.

"Negara-negara yang telah mencatat pertumbuhan ekonomi namun mengalami defisit neraca pembayaran serta defisit anggaran adalah yang harus dilihat secara hati-hati. Negara-negara tersebut harus kembali menyesuaikan model pertumbuhan ekonominya," jelas Sri Mulyani.

Sebagian besar kondisi pasar pasar finansial negara emerging market memburuk dalam beberapa bulan ini, di tengah naiknya optimisme terhadap perekonomian AS dan Eropa. Pasar di India tercatat yang paling buruk, kemudian diikuti oleh Brazil, Rusia dan China. (Kompas.com/Bloomberg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×