kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

S&P prediksi rupiah ke Rp 15.000 per dollar AS, Gubernur BI langsung beraksi


Selasa, 13 Maret 2018 / 21:12 WIB
ILUSTRASI. Uang rupiah


Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo angkat bicara menyusul pernyataan dari Lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) menyangkut nasib mata uang rupiah. S&P memprediksi rupiah bakal melemah ke level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS).  

“Karena selama ini BI bisa menjaga stabilitas rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi kita dan selama ini ada di kisaran seperti sekarang Rp 13.750,” ujarnya saat di temui di gedung Kementerian Keuangan, Selasa (13/3).

Di sisi lain, BI melihat bahwa tahun 2018 khususnya sejak Februari hingga Maret terjadi tekanan pada rupiah. Hal itu, dampak dari sentimen eksternal seperti rapat The Federal Open Market Committee (FOMC).

“Pertemuan FOMC, yang memberikan kesan bahwa ekonomi Amerika sedang dalam proses pemulihan dan ada kemungkinan suku bunga Fed dinaikkan lebih dari tiga kali,” tambahnya.

Kedua, efek dari kebijakan Presiden Donald Trump yang mengeluarkan aturan terkait dengan bea masuk untuk baja dan aluminium. Kedua hal tersebut memberi sentimen positif bagi dollar akibatnya menekan mata uang dari negara lain.

Untuk itu, BI memprediksi secara year to date (Ytd) rupiah akan terdepresiasi sekitar 1,5% dan penguatan dollar tidak akan berjalan lama.

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menanggapi, dalam dua bulan terakhir, nilai tukar rupiah memang mengalami guncangan yang cukup hebat.

Dari awalnya rupiah berada di level Rp 13.300 per dollar pada awal Januari kemudian terus terdepresiasi hingga Rp 13.800 pada awal Maret 2018.

“Berbagai analis ikut dalam permainan tebak-tebakan nilai tukar rupiah. Yang terbaru lembaga rating internasional Standard and Poors (S&P) mengeluarkan rilis bahwa rupiah sangat berpotensi melemah hingga 15.000 per dolar,” jelasnya dalam analisa yang di terima Kontan.co.id .

Menurutnya, ramalan S&P biasanya sangat moderat. Artinya, rupiah bisa terperosok lebih dalam dari Rp 15.000, mungkin dikisaran Rp 16.000 hingga Rp 16.500 di 2018-2019.

Penurunan nilai tukar ini sering kali dihubungkan dengan tekanan global, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS alias Fed rate.

Sementara di sisi yang lain ada tekanan dari harga komoditas khususnya minyak mentah, CPO, dan batubara. Ketiga komoditas terpenting dunia ini trennya cenderung naik.

“Bahkan harga minyak mentah diprediksi menembus US$ 80 dolar per barel di semester II mendatang, dari harga saat ini dikisaran US$ 63-65 dolar per barel,” tambahnya.

Sebagai Negara utama eksportir komoditas seperti batubara dan CPO, harga komoditas global berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×