Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani merespon positif terkait langkah pemerintah Singapura memanggil 10 perusahaan yang diduga berpotensi terkait dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia.
"Kalau kita melihat untuk satu hal yang positif ya, untuk kepentingan yang sama, supaya hal-hal seperti karhutla dan lain-lain bisa terselesaikan dengan baik," ujar Rosan kepada awak media seusai agenda Rapimnas Kadin, Kamis (29/10/2026).
Pasalnya, pemanggilan tersebut berkaitan dengan persoalan kabut asap lintas negara. Meski begitu, Rosan menegaskan, langkah tersebut tidak akan memengaruhi nvestasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), termasuk investasi dari Singapura yang menjadi salah satu sumber investasi penting bagi Indonesia.
Rosan memastikan komitmen kerja sama kedua negara tetap terjaga. Bahkan Ia mengaku baru saja bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan untuk membahas penguatan hubungan dan kerja sama kedua negara.
"Kebetulan saya kemarin juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Pak Vivian, dan menyampaikan bahwa komitmen untuk baik itu investasi maupun hal-hal lainnya tetap siap, tetap terbuka," kata Rosan.
Baca Juga: RI-Singapura Siapkan Satgas Karhutla, Kebakaran Lahan Ancam Bisnis Perkebunan
Menurut Rosan, Indonesia dan Singapura juga akan memperkuat koordinasi dan kerja sama agar investasi kedua negara dapat terus meningkat.
Ia menyebut pemerintah Indonesia terbuka untuk menerima masukan dari Singapura, sekaligus menyampaikan berbagai hal yang dapat dikolaborasikan untuk mendukung kepentingan bersama.
"Saya pun terbuka berbicara untuk mendapatkan masukan, feedback juga dari pihak mereka. Dari kita pun memberikan masukan juga apa yang bisa kita kolaborasikan bersama agar kepentingan baik Indonesia dan negara-negara tetangga ini bisa lebih meningkat ke depan," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah Singapura memanggil para eksekutif senior dari 10 perusahaan yang diduga berpotensi terkait dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap lintas negara. Pertemuan tersebut berlangsung pada Rabu (28/10/2026).
Sejumlah media Singapura, termasuk Channel News Asia (CNA), The Straits Times, dan Mothership, melaporkan bahwa para eksekutif perusahaan tersebut menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan yang dilakukan pemerintah Singapura.
Baca Juga: Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla, 4 Perusahaan Asing
Pertemuan itu melibatkan Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong, Menteri Senior K. Shanmugam, dan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu. Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan Kejaksaan Agung serta Badan Lingkungan Nasional (National Environment Agency/NEA).
Dalam laporan CNA, pemerintah Singapura menyampaikan ekspektasinya kepada para pimpinan perusahaan sekaligus menguraikan rencana penguatan peraturan untuk meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab atas pencemaran kabut asap.
Adapun sejumlah perusahaan yang eksekutifnya dipanggil antara lain Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Resources, Wilmar International, dan Sinar Mas Group.
Dalam pertemuan tersebut, Golden Agri-Resources juga diwakili oleh pimpinan yang turut mewakili Asia Pulp & Paper (APP) Company dan Asia Pulp & Paper Company (China).
Baca Juga: RI-Singapura Bentuk Satgas untuk Seret Korporasi Pelaku Karhutla ke Pengadilan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














