kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

RNI dan PTPN kantongi izin impor gula mentah


Kamis, 14 Juli 2016 / 16:58 WIB


Reporter: Handoyo | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemdag) telah memberikan izin impor gula mentah atau raw sugar kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan PT Perkebunan Nasional (PTPN) sebanyak 114.000 ton untuk peningkatan rendeman gula petani lokal.

Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemdag, Karyanto Suprih mengatakan, izin impor tersebut diberikan pada tanggal 12 Juli lalu kepada PT RNI, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI dan PTPN XII.

"Total (izin impor yang diberikan) sesuai dengan rekomendasi Kementerian Perindustrian (Kemperin)," kata Karyanto, Kamis (14/7).

Pemasukan gula mentah tersebut diberikan pada periode Juli-Desember mendatang. Sekadar catatan, izin impor yang telah diberikan tersebut bagian dari alokasi yang disarankan oleh menteri BUMN sebanyak 381.000 ton.

Meskti tidak merinci, belum seluruhnya izin impor gula mentah tersebut diberikan lantaran pihak Kemperin melakukan verifikasi terhadap kemampuan dari perusahaan dalam melakukan penggilingan. "Kemperin menilai, kemampuannya berapa," kata Karyanto.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemperin, Panggah Susanto mengatakan diharapkan gula mentah yang diimpor oleh RNI dan PTPN dapat digunakan untuk stabilitas harga gula konsumsi yang terus meningkat utamanya pada awal tahun 2017 mendatang.

Apalagi, saat ini tren harga gula dunia juga menunjukkan peningkatan. Dengan beberapa langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga gula ditingkat konsumsi ini, diharapkan harga gula industri tidak mengalami gejolak sehingga kebutuhan industri makanan dan minuman tetap aman.

Keputusan impor ini mendapat banyak penolakan, seperti dari kalangan asosiasi petani tebu, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Alasannya, dengan masuknya gula mentah yang digunakan sebagai campuran gula tebu hasil produksi petani akan semakin mendistorsi harga.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×