Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kembali melaksanakan rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), Kamis ( 22/10) malam.
Dari rapat tersebut, keempat pihak menyepakati tiga kesimpulan. Pertama, koordinasi dalam rangka pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan secara berkala melalui FKSSK terus dilakukan melalui pemantauan rutin maupun berdasarkan kebutuhan.
Dari forum tersebut, pemerintah, BI, OJK, dan LPS berkomitmen untuk menjaga momentum penguatan nilai tukar dan surat berharga domestik untuk meningkatkan market confidence.
Kedua, berdasarkan nilai assessment kuartal ketiga serta outlook hingga akhir 2015, stabilitas sistem keuangan dan makro ekonomi masih baik dan terkendali. Ketiga, pemerintah, BI, OJK, dan LPS terus berkoordinasi dalam menerbitkan serangkaian kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, pemerintah terus mewaspadai tekanan yang muncul di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya tekanan pada penerimaan pajak. Apalagi, penerimaan pajak diproyeksi melebar hingga Rp 150 triliun tahun ini.
"Dalam tiga bulan kami upayakan membaik, baik dari kebijakan yang sudah dan akan dikeluarkan," kata Bambang, Kamis malam.
Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, dalam rapat FKSSK dibicarakan pula risiko pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut. Meski ekonomi Amerika Serikat memang membaik, namun kondisinya belum solid. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi emerging country pun masih terbatas, khususnya China.
Meski demikian, BI memandang inflasi Indonesia masih terkendali dan tetap mewaspadai tekanan inflasi beberapa bulan ke depan. Risiko eksternal, lanjut Agus, bersumber dari eksplorasi transmisi pelemahan rupiah seiring melemahnya daya beli. Sementara dari segi domestik yaitu dampak dari El Nino dengan intensitas yang kuat mulai Augustus dan diikuti naiknya harga beras dalam indeks harga konsumen (IHK).
Tanda-tanda bergeraknya kegiatan ekonomi pun mulai tampak. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menyatakan, membaiknya kondisi tersebut dilihat dari pertumbuhan yang meningkat dibanding pertumbuhan pada Agustus 10,9% menjadi lebih dari 11% hingga saat ini.
Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah melihat, tidak ada perubahan perilaku dari para depositor yang menanamkan uangnya di perbankan di Indonesia. Bahkan masyarakat terlihat masih percaya pada kekuatan pertahanan industri keuangan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













