Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi diproyeksikan masih berada di atas level 3% hingga akhir tahun 2026. Tekanan terutama berasal dari kenaikan harga pangan akibat risiko El Nino serta potensi kenaikan harga energi global.
Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman memperkirakan inflasi utama akan mencapai sekitar 3,13% pada akhir 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sebesar 2,92% pada 2025.
Menurutnya, tekanan inflasi dari sisi pasokan masih akan berlanjut dan secara bertahap dapat diteruskan ke harga yang dibayarkan konsumen. Risiko tersebut terutama berasal dari sektor pangan.
Baca Juga: Inflasi Mendekati Batas Atas, Wamenkeu Pastikan Daya Beli Masih Terjaga
Faisal menyebut kondisi El Nino berpotensi semakin meningkatkan tekanan terhadap harga pangan apabila mengganggu produksi pertanian. Risiko tersebut juga dapat diperkuat oleh meningkatnya permintaan pangan seiring berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain pangan, perkembangan harga energi global juga menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Harga energi global yang bertahan tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah, terutama apabila harus mempertahankan harga energi domestik melalui kebijakan fiskal.
“Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini, kami memperkirakan inflasi utama mencapai sekitar 3,13% pada akhir 2026,” kata Faisal, dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Meski demikian, ia menilai inflasi dapat bergerak lebih tinggi dari proyeksi tersebut apabila terjadi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga energi global berlangsung lebih lama.
Selain itu, dampak El Nino terhadap harga pangan yang lebih kuat dari perkiraan juga berpotensi mendorong inflasi melampaui proyeksi.
Memasuki 2027, Faisal memperkirakan tekanan inflasi masih relatif tinggi pada semester I 2027. Risiko tersebut terutama berasal dari El Nino dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Pindah dari Bank Indonesia ke Kemenkeu, Ini Fokus Awal Nurkholis Aman Jadi Wamenkeu
Namun, tekanan inflasi diperkirakan mulai mereda pada semester II 2027 seiring membaiknya kondisi global dan prospek rupiah. Perbaikan nilai tukar rupiah dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari barang-barang impor.
Dengan kondisi tersebut, Faisal memperkirakan inflasi akan kembali turun ke bawah 3% pada akhir 2027, yakni sekitar 2,94%.
Untuk diketahui, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi yang meningkat pada September 2026. Inflasi secara bulanan meningkat menjadi 0,30% month to month pada September 2026, atau naik dari 0,12% pada bulan sebelumnya.
Sedangkan inflasi tahunan meningkat dari 3,19% year on year (yoy) yoy pada Agustus 2026 menjadi 3,28% yoy pada September 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














