Reporter: Genta Disa | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menilai program magang yang dihadirkan pemerintah pada dasarnya menguntungkan sektor industri untuk mengidentifikasi calon pekerja potensial serta mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja.
Menurut Kepala Lembaga Demografi FEB UI I Dewa Gede Karma Wisana, selain membantu lulusan baru memahami dunia kerja, program magang kerja melalui Kemnaker (MagangHub) memberikan ruang bagi industri untuk menyeleksi kandidat terbaik secara langsung.
“Program magang tuh bagus sebenarnya ide awal mulanya, yaitu memastikan bahwa tadi proses transisi mereka yang baru lulus kerja untuk kemudian mendapatkan pengalaman dan mempunyai ide tentang dunia kerja tuh seperti apa. Selain itu juga industri juga punya mekanisme apprenticeship untuk mulai bisa mengidentifikasi mana calon-calon pekerja yang potensial untuk mereka pekerjakan,” ujar Dewa disela acara HUT ke-30 KONTAN di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09/2026).
Baca Juga: DEN Ingatkan Pemerintah Akan Ancaman El Nino dan La Nina ke Sektor Pangan
Namun, Dewa memberi catatan, yakni efektivitas program magang berskala besar perlu dievaluasi secara berkala. Hal ini penting agar skema pemagangan dapat menjawab tantangan pasar kerja di tengah melambatnya penciptaan lapangan kerja formal akibat deindustrialisasi.
“Jadi riskannya memang di situ karena ternyata penciptaan lapangan pekerjaan formal pun lumayan menantang. Ya, industrialisasi yang cenderung stagnan, kalau enggak mau dibilang deindustrialisasi ya, artinya kesempatan kerja yang ada lebih banyak di sektor jasa dan sektor jasanya tadi cenderung informal atau yang low-skill,” terangnya.
Dewa bilang, tantangan utama penyerapan tenaga kerja saat ini berasal dari sisi permintaan (demand), yang dipengaruhi oleh dinamika investasi, regulasi, hingga kepastian hukum bagi pelaku usaha.
Oleh karena itu, Dewa menggarisbawahi agar program magang tidak sekadar menjadi formalitas atau dimanfaatkan sebagai penyedia tenaga kerja murah tanpa adanya proses seleksi yang berkualitas.
“Jangan sampai nanti ada kesannya di belakang perusahaan dapat tanda kutip kerja murah atau dapat pekerja tanpa perlu seleksi dan sebagainya. Jadi penting untuk kita mencari model terbaiknya dan juga evaluasinya agar kita tahu kebutuhan sesungguhnya dari dua sisi seperti apa,” ungkap Dewa.
Ia menyarankan pemerintah terus melakukan penyempurnaan program magang dengan mengadaptasi praktik terbaik (best practices) dari negara lain yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri.
Baca Juga: Hadapi Tekanan Harga Minyak, Pemerintah Minta Lakukan Penyesuaian Harga BBM Bertahap
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














