Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak pihak yang memperdebatkan peran Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF dan World Bank 2018 di Bali. Apalagi, baru-baru ini telah terjadi bencana gempa bumi di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat.
Mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri pun angkat bicara soal ini. Melalui akun twitternya @ChatibBasri, ia menjelaskan kapan Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah dan apa manfaat yang bisa diambil dari pertemuan tahunan tersebut.
Chatib menyampaikan, pemerintah bersama Bank Indonesia sudah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF-World Bank sejak September 2014, dimana pengajuan ini dilakukan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Indonesia kemudian ditetapkan menjadi tuan rumah pada Oktober 2015 setelah melalui tahapan yang tidak mudah.
Chatib membantah tujuan pertemuan tahunan ini untuk meminta tambahan utang. Menurutnya, untuk meminta tambahan utang, Indonesia tak perlu menjadi tuan rumah.
"Dalam pertemuan ini dibahas situasi ekonomi dunia, diskusi mengenai kebijakan negara-negara. Perekembangan teknologi dan sebagainya. Indonesia bisa memanfaatkan itu untuk komunikasi dan memanfaatkan idenya," ujar Chatib, Minggu (7/10).
Pertemuan tahunan ini juga bisa dimanfaatkan bagi Indonesia untuk memasukkan agendanya. "Dengan begitu Indonesia akan berperan di level global," tambah Chatib.
Terkait biaya yang dikeluarkan, Chatib menjelaskan anggaran untuk pertemuan tahunan ini disusun sejak Indonesia ditetapkan menjadi tuan rumah. Menurutnya, Indonesia bebas untuk menentukan apakah pertemuan ini dibuat besar atau yang kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













