kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Pengamat: Inflasi Juni akan mencapai 2%


Jumat, 21 Juni 2013 / 20:33 WIB
ILUSTRASI. Data Kemenkes menunjukkan, terjadi penambahan 92 kasus konfirmasi sehingga totalnya menjadi 506 kasus. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Pemerintah telah memutuskan untuk mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi malam ini (21/6). Dua jenis BBM yang selama ini disubsidi yaitu premium dan solar akan naik masing-masing menjadi Rp 6.500 per liter dan Rp 5.500 per liter.

Kenaikan harga BBM bersubsidi merupakan yang pertama kali sejak tahun 2008 lalu. Lalu apa dampaknya bagi masyarakat bila harga BBM subsidi naik? Yang jelas, kenaikan akan disusul oleh kenaikan tarif angkutan.

Selain itu, biaya transportasi juga akan mengalami kenaikan. Akibatnya, ini akan berpengaruh terhadap dunia industri. Ekonom dari Bank BCA, David Sumual mengatakan, kenaikan akan dirasakan langsung masyarakat.

Meskipun hanya tarif angkutan yang naik, kenaikannya akan mengerek harga kebutuhan pangan juga terdongkrak naik. Apalagi bulan pada Juli nanti Indonesia memasuki bulan Ramadhan, dan hari raya Idul Fitri.

Selain itu, beberapa saat lagi Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru. Dimana saat itu tingkat permintaan kebutuhan alat-lat sekolah akan naik. Menurut David, sumbangan dari kenaikan harga BBM bersubsidi saja bisa membuat inflasi sebesar 0,5%.

Bakan, David juga mengatakan, kenaikan harga BBM bisanya diikuti kenaikan inflasi 0,8%. Namun kali ini, inflasi akan terakumulasi naik sekitar 2%. "Inflasi akan meningkat sepanjang tiga bulan pertama sejak dinaikkan," ujar David.

Itu artinya, kenaikan harga akibat inflasi akan terjadi pada Juni, Juli dan Agustus. Nah, setelah itu inflasi perlahan turun. David menghitung, dalam tiga bulan pertama inflasi paling tinggi terjadi di bulan Juni, yaitu antara 2%-2,2%.

Kemudian pada bulan Juli kenaikan inflasinya akan mencapai 1,8%, dan bulan Agustus sekitar 1,5%. Sedangkan rata-rata kenaikannya diperkirakan sebesar 1,5%. Pada bulan Juni kenaikan inflasi memang karena kenaikan tarif transportasi saja.

Sementara pada bulan Juli kenaikan sudah mulai dipengaruhi oleh kenaikan harga sandang dan pangan. Baru di bulan ke tiga terjadi second round effect, dimana kenaikan harga BBM akan berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi di luar pangan dan sandang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×