Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.548
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS660.000 0,61%

Pengamat: Indonesia bisa ambil peluang dari perang dagang

Senin, 16 April 2018 / 22:09 WIB

Pengamat: Indonesia bisa ambil peluang dari perang dagang
ILUSTRASI. Kapal Petikemas Sandar di Pelabuhan Tanjung Priok

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia bisa mengambil peluang dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Terutama untuk menggenjot kinerja pertumbuhan ekspor.

Pengamat ekonomi Bank BCA David Sumual mengatakan, surplus neraca perdagangan bulan Maret di topang oleh kinerja ekspor besi dan baja ke AS ke China


“Ada dugaan ini ada pengaruhnya dengan perang dagang karena bajanya itu meningkat, dan ada tarif yang cukup besar yang di terapkan untuk produk China,” ujarnya saat di hubungi Kontan.co.id, Senin (16/4).

Menurutnya, hal tersebut merupakan peluang bagi Indonesia untuk memetakan produk mana saja yang dapat di ekspor untuk menembus pasar kedua negara tersebut.

“Tapi kita lihat di bulan berikutnya apakah ini sustain, atau tidak. Kalau sustain dan memang perang dagang masih berlangsung, diduga ini memang ada pengaruh dari situ di mana produk itu sedang saling di berikan tarif oleh negara satu sama lainnya,” tambahnya.

Di lain pihak, lanjutnya ada crude palm oil (CPO) yang mengalami kecenderungan turun. Dia meyakini Hal ini merupakan musiman.

Menurutnya, Indonesia harus berhati-hati pada produk komoditas yang naik dan turunnya bersifat musiman.

“Jadi memang kita harus hati-hati pada produk komoditas ini yang memang naik dan turun dan sifatnya musiman,” paparnya.

Indonesia mencatat surplus perdana neraca perdagangan tahun 2018. Tercatat, nilai ekspor di akhir Maret mencapai US$15,58 miliar. Angka ini lebih tinggi 10,24% dibanding Februari 2018, juga lebih tinggi 6,14% dibanding Maret 2017. 

Nah, secara kumulatif Januari-Maret, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor tambang mulai mengkilat. Kenaikannya 41,48% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year). 

Dilihat dari kategori barang ekspor, harmonized system (HS), bahan bakar mineral mencatat kenaikan ekspor 18,58%. "Komoditas yang berperan paling besar adalah batu bara, dimana tujuan utamanya adalah Tiongkok, India dan Jepang," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Senin (16/4). 

Beberapa barang ekspor yang mendorong ekspor selama kuartal I tahun ini antara lain, besi baja yang tergolong dalam HS72, dengan kenaikan tajam 64,94%. komoditas yang berperan besar yakni vero alloy nickel, dengan tujuan utamanya China, India, dan Amerika serikat.

Selanjutnya, HS26 yakni bijih, kerak dan abu logam mengalami kenikan signifikan. Komoditas yang berperan besar adalah tembaga, negara tujuannya adalah Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan.

“Alas kaki juga mengalami peningkatan, demikian juga ikan dan udang yang tergabung dalam HS 03,” imbuhnya.

China masih menjadi tujuan ekspor Indonesia, dengan pangsa pasar sampai 15,77%. Sementra itu Amerika serikat 11%, Jepang 10,15%. Dari tiga negara ini total ekspor kita sebesar 36,9%.

Reporter: Arsy Ani Sucianingsih
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0014 || diagnostic_api_kanan = 0.0793 || diagnostic_web = 1.8371

Close [X]
×