kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.026   -112,00   -0,65%
  • IDX 7.250   278,69   4,00%
  • KOMPAS100 1.002   44,20   4,62%
  • LQ45 731   29,62   4,22%
  • ISSI 259   9,16   3,67%
  • IDX30 397   15,18   3,97%
  • IDXHIDIV20 486   14,05   2,98%
  • IDX80 113   4,83   4,48%
  • IDXV30 134   3,57   2,74%
  • IDXQ30 128   4,22   3,39%

Penerimaan Pajak Terancam di Semester II, Efek Musiman Mulai Hilang


Rabu, 08 April 2026 / 13:20 WIB
Penerimaan Pajak Terancam di Semester II, Efek Musiman Mulai Hilang
ILUSTRASI. Sosialisasi Pajak Coretax (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerimaan pajak Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan pada paruh kedua tahun 2026 seiring memudarnya faktor musiman yang selama ini menopang kinerja ekonomi di awal tahun.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro mengingatkan bahwa lonjakan aktivitas ekonomi pada kuartal I-2026 tidak mencerminkan kekuatan fundamental yang berkelanjutan.

Menurutnya, pertumbuhan konsumsi yang tinggi pada awal tahun didorong oleh kombinasi faktor seperti belanja pemerintah yang masif, efek basis rendah (low base effect), serta momentum Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini membuat kinerja ekonomi, termasuk penerimaan pajak berbasis konsumsi seperti PPN, tampak kuat di kuartal I.

Baca Juga: Ditjen Pajak Ungkap Cara Ampuh Percepat Penagihan Tunggakan Pajak

"Yang perlu diantisipasi terutama nanti performance dari penerimaan pajak itu adalah di kuartal II dan III ketika tidak ada sentimen dan pendorong dari sisi permintaan lagi," ujar Asmo, nama sapaannya, dalam acara yang digelar Pusdiklat Pajak, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan, setelah periode hari besar keagamaan berakhir, aktivitas konsumsi masyarakat cenderung mengalami normalisasi bahkan penurunan. 

Di sisi lain, dunia usaha mulai menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi, terutama akibat meningkatnya harga energi dan bahan baku di tengah ketidakpastian global.

Kondisi tersebut berpotensi menekan margin usaha sekaligus mengurangi ekspansi bisnis, yang pada akhirnya berdampak pada penerimaan pajak. Terlebih lagi, inflasi yang diperkirakan meningkat dapat menggerus daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah yang menjadi kontributor utama konsumsi domestik.

Andry menambahkan, tantangan ini semakin kompleks karena terjadi pada saat tidak ada lagi stimulus kuat dari sisi fiskal seperti di awal tahun. 

Dengan demikian, kinerja penerimaan pajak berisiko melambat jika tidak diimbangi dengan strategi penguatan basis pajak dan peningkatan kepatuhan.

"Jadi penerimaan fiskal juga memang sangat dipengaruhi oleh bagaimana dari sisi belanja pemerintah," katanya. 

Baca Juga: DJP Bersih-Bersih! Pemecatan Pegawai Pajak Naik Dua Kali Lipat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×