kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Pemerintah melatih petani asing


Kamis, 07 April 2011 / 13:11 WIB
Pemerintah melatih petani asing
ILUSTRASI. Petugas menghitung uang rupiah di money changer Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Pelemahan rupiah semakin tak terkendali. Rupiah di pasar spot sudah menyentuh 15.585 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini membuat mata uang Garuda melemah 2,32


Reporter: Petrus Dabu | Editor: Edy Can

JAKARTA. Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri memberikan pelatihan kepada lima petani asal Comoros hingga Mei mendatang. Pelatihan merupakan tindak lanjut permintaan Presiden Comoros kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pelatihan diberikan selama 55 hari. Direktur Kerja Sama Teknik Afrika dan Timur Tengah Henri Samosir mengatakan, pelatihan dilakukan di beberapa balai dan pusat pelatihan pertanian di Yogyakarta, Kuningan dan Lembang, Jawa Barat. "Nanti mereka belajar teori dan praktik, teori di Kementerian Pertanian dan kemudian langsung praktik di temapt-tempat tadi," ujarnya, Kamis (7/4).

Dengan kombinasi antara teori dan praktik, Samosir berharap petani tersebut dapat memahami teknik dan proses penanaman padi serta beberapa materi pelengkap seperti hortikultura,peternakan, sistem penyuluhan, dan kelembagaan petani.

Program yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani ini sudah dilakukan sejak 2007 silam. Pesertanya berasal dari Fiji, Gambia, Senegal, Madagaskar, Myanmar, Kamboja dan Mozambik. Pelaksanaannya dilakukan setiap tahun. "Ini sudah yang kelima kali kami lakukan," tegas Samosir.

Kementerian Pertanian juga menggelar kegiatan pelatihan pengolahan hasil pertanian pasca panen. Kegiatan ini dilakukan selama 7-21 April 2011. Pesertanya berasal dari lima negara Asia Pasifik yaitu Fiji, Bangladesh, Laos, Sri Langka dan Timor Leste.

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan dua kegiatan ini merupakan manifestasi komitmen Indonesia untuk membantu pembangunan sesama negara berkembang khususnya sektor pertanian. "Sektor pertanian merupakan aset penting soft-power diplomacy Indonesia," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×