kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Pemerintah Malaysia tak cukup minta maaf


Sabtu, 28 April 2012 / 09:33 WIB
ILUSTRASI. Salah satu manfaat masker spirulina adalah menyamarkan tanda-tanda penuaan.


Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pemerintah Malaysia tidak cukup hanya meminta maaf atas keterlambatan memberi informasi kepada pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atas tewasnya tiga orang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ditembak aparat kepolisian setempat. Menurut Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, yang lebih penting adalah penjelasan mengenai kesalahan ketiga TKI dan kenapa mereka ditembak mati di tempat.

"Ini substansi masalahnya. Pemerintah Indonesia tidak boleh puas lalu berhenti hanya pada adanya permintaan maaf ini. Termasuk pemerintah Malaysia harus menjelaskan apa alasan jasad korban penuh jahitan. Apakah ini bagian dari upaya menhilangkan barang bukti timah panas yg masuk ke tubuh korban," tutur Mahfudz, Sabtu (28/4/2012) di Jakarta.

"Saya dalam posisi sebagai Ketua Komisi I DPR, mengajak pemerintah, masyarakat, dan media massa untuk berhenti menyebut ketiga korban dengan sebutan TKI. Tapi harus kita sebut WNI (warga negara Indonesia)," tambah Mahfudz.

Menurut Mahfudz, yang dibunuh oleh aparat Kepolisian Diraja Malaysia adalah tiga WNI. Indonesia sebagai negara sudah diperlakukan sewenang-wenang oleh Malaysia. "Dan atas nama konstitusi, negara Indonesia berkewajiban melindungi warga negaranya degan segala cara," tandas Mahfudz. (Sidik Pramono, Nasru Alam Aziz/Kompas.com)

JAKARTA. Pemerintah Malaysia tidak cukup hanya meminta maaf atas keterlambatan memberi informasi kepada pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atas tewasnya tiga orang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ditembak aparat kepolisian setempat. Menurut Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, yanh lebih penting adalah penjelasan mengenai kesalahan ketiga TKI dan kenapa mereka ditembak mati di tempat.

"Ini substansi masalahnya. Pemerintah Indonesia tidak boleh puas lalu berhenti hanya pada adanya permintaan maaf ini. Termasuk pemerintah Malaysia harus menjelaskan apa alasan jasad korban penuh jahitan. Apakah ini bagian dari upaya menhilangkan barang bukti timah panas yg masuk ke tubuh korban," tutur Mahfudz, Sabtu (28/4/2012) di Jakarta.

"Saya dalam posisi sebagai Ketua Komisi I DPR, mengajak pemerintah, masyarakat, dan media massa untuk berhenti menyebut ketiga korban dengan sebutan TKI. Tapi harus kita sebut WNI (warga negara Indonesia)," tambah Mahfudz.

Menurut Mahfudz, yang dibunuh oleh aparat Kepolisian Diraja Malaysia adalah tiga WNI. Indonesia sebagai negara sudah diperlakukan sewenang-wenang oleh Malaysia. "Dan atas nama konstitusi, negara Indonesia berkewajiban melindungi warga negaranya degan segala cara," tandas Mahfudz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×