Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto membentuk satgas transisi energi. Satgas ini untuk mempercepat realisasi konversi 120 juta motor listrik dalam empat tahun kedepan.
Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno menilai konversi 120 juta motor ke bensin ke listrik belum bisa menjawab masalah mendasar terkait kemacetan dan polusi perkotaan.
"Meskipun konversi 120 juta motor bensin ke listrik dapat mereduksi emisi gas buang secara lokal, kebijakan ini belum menjawab tantangan ruang jalan yang tetap sesak oleh volume kendaraan yang sama," kata Djoko pada Kontan, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Purbaya Akan Pangkas Anggaran MBG yang Tidak Produktif
Djoko menilai solusi paling efektif untuk menekan konsumsi energi bukanlah sekadar mengganti mesin bensin menjadi listrik, melainkan mendorong masyarakat berpindah ke moda transportasi massal yang jauh lebih hemat energi secara kolektif.
Di sisi lain, Djoko mengatakan bahwa salah satu kendala dalam konversi listrik terkait terbatasnya kapasitas bengkel terverifikasi.
"Perlu diuji kembali apakah ketersediaan UMKM dan bengkel konversi saat ini mampu memenuhi standar keamanan dan teknis pada skala masif. Tanpa pengawasan ketat, reliabilitas hasil konversi dipertaruhkan," ungkap Djoko.
Selain itu, pemerintah juga perlu mengatasi persoalan limbah baterai. Djoko bilang program ini berisiko sekadar memindahkan krisis dari polusi emisi udara menjadi krisi limbah baterai di masa depan.
Terakhir, mengenai keandalan teknologi, pemerintah harus mampu menjamin bahwa performa motor listrik hasil konversi tetap setara dengan standar pabrikan. Aspek ini menjadi penentu utama dalam menjaga kepercayaan dan minat masyarakat untuk melakukan transisi secara sukarela.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai target konversi 120 juta kendaraan listrik dalam 4 tahun sulit dicapai jika pemerintah masih menggunakan cara yang terdahulu.
Fabby mengatakan bahwa sejak program ini diluncurkan pada tahun 2022, banyak masyarakat yang tidak ingin melakukan konversi karena biaya cukup besar.
Baca Juga: Kemenag Sebut Pembatasan Medsos Lindungi Anak-Anak dari Pornografi hingga Judol
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang tidak melihat urgensi dari konversi kendaraan listrik. Sebagian dari masyarakat juga merasa bingung apakah motor yang di konversi nantinya bisa dijual.
"Nah pertanyaannya kalau diganti itu kemudian masih bisa laku enggak? Nah ini kan juga penting karena sebagian masyarakat juga melihatnya ini kan sebagai investasi mereka motor itu," ujar Fabby.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Presiden Prabowo telah membentuk satuan tugas (satgas) baru untuk mempercepat pelaksanaan transisi energi di Indonesia.
Menurut Bahlil, salah satu mandat utama satgas tersebut adalah mempercepat konversi kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik, khususnya sepeda motor. Pemerintah menargetkan konversi motor listrik dapat mencapai 4 juta hingga 6 juta unit per tahun.
"Sebelumnya memang ada konversi, setiap tahun ada sekitar 200 ribu motor yang dikonversi dari motor bensin ke motor listrik. Tapi sekarang sudah mulai ada teknologinya yang lebih murah. Jadi mungkin sekitar 4, 5 sampai 6 juta,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Kamis (5/3/2026).
Ia menambahkan, pemerintah juga berencana memberikan subsidi kepada masyarakat yang ingin melakukan konversi motor bensin menjadi motor listrik.
Namun demikian, pemerintah masih menyusun formulasi skema subsidi yang akan diberikan.
"Jadi habis ini kami akan melakukan kerja-kerja satgas sehingga perencananya bener-bener presisi," lanjutnya.
Baca Juga: Dapur MBG Bermasalah, Pengawasan Harus Ketat Karena Kelola Anggaran Sangat Besar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













