kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.888   6,00   0,03%
  • IDX 6.298   -75,51   -1,18%
  • KOMPAS100 823   -12,20   -1,46%
  • LQ45 626   -7,82   -1,23%
  • ISSI 218   -2,30   -1,04%
  • IDX30 350   -4,32   -1,22%
  • IDXHIDIV20 426   -3,58   -0,83%
  • IDX80 94   -1,33   -1,40%
  • IDXV30 118   -0,80   -0,68%
  • IDXQ30 111   -1,04   -0,93%

Pembelian tank Leopard rumit karena terlalu banyak kepentingan


Kamis, 19 Januari 2012 / 11:22 WIB
ILUSTRASI. Kendaraan lapis baja militer Myanmar berkendara melewati sebuah jalan, setelah mereka mengambil kekuasaan dalam sebuah kudeta, di Mandalay, Myanmar, Selasa (2/2/2021).


Reporter: Eka Saputra | Editor: Test Test

JAKARTA. Rencana pembelian tank Leopard dari Belanda menjadi rumit karena terlalu banyak kepentingan yang bermain. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPR Pramono Anung, Kamis (19/1).

“Sepertinya internal pemerintah pun belum solid dalam hal ini, jadi merembet ke DPR. Sebenarnya kan bisa sederhana, untuk membeli tank kalau harga dianggap terlalu mahal, bisa dilakukan perbandingan. DPR bisa cek langsung,” ujarnya.

Ia mengakui saat ini Tentara Nasional Indonesia (TNI) membutuhkan persenjataan yang lebih kuat. Namun menurutnya tiap pengadaan alutsista (alat utama sistem senjata) harus dilakukan secara terbuka dan jangan hanya lewat satu produsen saja dan harus ada perbandingan.

Malah menurutnya, pemerintah harus memiliki keinginan politik menggenjot industri alutsista dalam negeri. “Lebih bagus lagi kalau industri dalam negeri bisa didorong membuat sendiri. Ini sebenarnya harus jadi gerakan nasional,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Leopard merupakan tank bekas dari Belanda. Rencananya pemerintah akan membeli 100 unit tank dengan total harga US$ 280 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×