kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Minyak Dunia Naik dan Rupiah Melemah, Defisit APBN Berisiko Mendekati 3%


Minggu, 18 Oktober 2026 / 18:37 WIB
Minyak Dunia Naik dan Rupiah Melemah, Defisit APBN Berisiko Mendekati 3%
ILUSTRASI. USA-RIGS/BAKER HUGHES (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah pelemahan rupiah berpotensi menambah beban impor energi Indonesia.

Kombinasi kedua faktor tersebut meningkatkan biaya pembelian minyak dalam rupiah sekaligus memperbesar kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Mengacu pada data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 3,51% ke level US$ 101,41 per barel pada Jumat (16/10/2026). Secara mingguan, harga WTI menguat 10,41% berdasarkan data Trading Economics.

Baca Juga: BPK Soroti Tax Holiday, Efektivitas Insentif Pajak Dipertanyakan

Pada periode yang sama, rupiah ditutup melemah ke level Rp 18.027 per dolar AS. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan energi dan anggaran negara, terutama jika harga minyak bertahan tinggi.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah meningkatkan kebutuhan dolar AS.

Permintaan valuta asing juga berasal dari pembayaran utang jatuh tempo serta pembagian dividen perusahaan.

“Karena kelemahan mata uang rupiah dan naiknya harga minyak mentah ini membuat kebutuhan dolar yang cukup tinggi, kemudian utang jatuh tempo pun juga harus dibayarkan, kemudian pembagian dividen oleh perusahaan-perusahaan yang ada di bursa ini pun juga harus dibayarkan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).

Menurut Ibrahim, tekanan harga minyak dan nilai tukar juga berpotensi memperberat beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Ia memperkirakan defisit APBN berpeluang mendekati 3%, lebih tinggi dari asumsi 2,85% yang disebutnya dalam APBN.

Baca Juga: CORE Minta Pemerintah Evaluasi Kopdes Merah Putih, Ini Catatan yang Perlu Dicermati

Di sisi lain, pemerintah telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi melalui program swasembada solar.

Namun, tingginya harga minyak mentah dan pelemahan rupiah masih menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik.

Ibrahim menilai, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi masyarakat, terutama ketika tekanan harga komoditas dan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya pengadaan energi.

Risiko pasokan juga masih membayangi pergerakan harga minyak dunia. Ibrahim menyoroti perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, termasuk serangan terhadap fasilitas minyak Rusia serta ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Situasi tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan menjaga harga tetap tinggi. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap kebutuhan dolar AS untuk impor energi Indonesia juga dapat bertahan.

Baca Juga: Bahaya Tax Holiday Salah Sasaran, Ekonom: Negara Bisa Rugi

“Ini yang mengindikasikan kemungkinan besar masih akan terus melemah. Di sisi lain, masalah harga minyak yang tinggi dan impor energi yang cukup besar berdampak terhadap defisit APBN,” tuturnya.

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah WTI bergerak di kisaran US$ 94,20 hingga US$ 104,80 per barel.

Dengan rentang tersebut, harga minyak masih berpeluang kembali menembus level US$ 100 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×