kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Mesin Moneter Belum Optimal, Purbaya Minta Bank Sentral Dorong Ekonomi Lebih kencang


Minggu, 30 November 2025 / 08:51 WIB
Mesin Moneter Belum Optimal, Purbaya Minta Bank Sentral Dorong Ekonomi Lebih kencang
APBN RI Defisit-Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa saat jumpa pers APBNKita di Jakarta, Kamis (20/11/2025).


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pemulihan ekonomi nasional saat ini belum bisa bergerak secepat yang diharapkan. Hal ini lantaran mesin penggerak dari sisi moneter belum bekerja optimal.

Purbaya menilai, saat ini mesin pendorong perekonomian paling besar hanya dari sisi fiskal saja. Sementara dari moneter masih kurang.

“Mesin ekonomi kita belum membantu dari moneter. Sekarang mungkin dengan injeksi tambahan 10% lebih mungkin sekarang. Tapi kan uang di Bank Sentral masih banyak,” tutur Purbaya saat melakukan rapat kerja dengan DPR, Kamis (30/11/2025).

Purbaya menyebut, Bank Indonesia (BI) telah menyerap uang dari perbankan sekitar Rp 1.000 triliun melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan open market.

Baca Juga: BI Targetkan Nilai Transaksi Pasar Uang Naik Rp 81 Triliun per Hari di 2030

“Kalau bisa dibantu sedikit saja, lebih bagus lagi. Coba diketuk-ketuk sedikit supaya kita bisa jalan bersama,” tambahnya.

Menurutnya, masih terdapat ruang yang cukup aman untuk mendorong injeksi likuiditas lebih besar tanpa menimbulkan risiko risiko berlebih.

Apabila BI membantu, dan pertumbuhan M0 meningkat menjadi 20%, lanjut Purbaya, masih dapat ditoleransi tanpa memicu inflasi.

M0 adalah ukuran paling likuid dari pasokan uang yang mencakup uang tunai fisik yang beredar (koin dan uang kertas) serta cadangan yang disimpan oleh bank komersial di bank sentral.

Sebagai informasi, posisi uang primer atau M0 Adjusted pada Oktober 2025 mencapai Rp 2.117,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 14,4% secara tahunan (year on year/yoy), namun pertumbuhannya tercatat melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 18,6% yoy.

Dalam kesempatan berbeda, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah mencoba melakukan injeksi ke sistem, tetapi pertumbuhan uang beredar baru berada di kisaran 10% hingga 15% atau sekitar 13%.

Baca Juga: Tumbuh Kuat, Simak Proyeksi BI Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026-2027

Ia menilai pertumbuhan tersebut perlu dipercepat, mungkin mendekati 20% atau lebih, sehingga diperlukan dukungan tambahan dari Bank Sentral.

“Saya pikir kita mesti tumbuh lebih cepat lagi untuk uangnya. Mungkin mendekati 20% atau lebih. Untuk itu mungkin kita mesti mendapat dukungan dari Bank Sentral juga,” ungkapnya.

Selanjutnya: Rosan Soal Marger Grab dan GOTO, Harus Terbuka Bila Ingin Danantara Berpartisipasi

Menarik Dibaca: 8 Khasiat Minum Jus Seledri bagi Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×