kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Mengapa Indonesia tahan krisis? Ini alasannya


Minggu, 08 Juli 2012 / 14:15 WIB
ILUSTRASI. Harga emas Antam turun Rp 3.000 menjadi Rp 940.000 per gram pada Rabu (16/6)


Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Deputi Bidang Perdagangan Kemenko Perekonomian Ediputra Irawadi menjelaskan, walaupun terkena dampak krisis global sebanyak tiga kali, Indonesia masih mampu bertahan dan mampu bersaingan dalam perdagangan global.

"Tercatat 3 kali Indonesia terkena dampak krisis yaitu tahun 1998, 2007, dan 2011 . Tapi kita mampu bertahan karena mempunyai beberapa faktor yang dimiliki Indonesia," ujar Ediputera di Gedung Grahasawala, Kemenko Perekonomian, Jakarta, Sabtu (7/7) kemarin.

Menurutnya, ada enam indikator khusus yang dimiliki Indonesia dibandingkan negara-negara lain yang terkena langsung dari dampak krisis global saat ini dan beberapa tahun lalu.

Pertama, Indonesia bisa bertahan karena tingkat konsumsi rakyat Indonesia yang terbilang tinggi. "Ekonomi kita bisa kuat karena jumlah penduduk dan konsumsi banyak," ujarnya.

Kedua, secara geoekonomi, Indonesia terletak pada wilayah strategis atau titik poin dalam hal perniagaan. Menurutnya, ini merupakan suatu kondisi yang sebenarnya sudah lama terjadi sejak Indonesia masih di jaman kerajaan sekitar abad 16 Masehi silam. Letak strategis beberapa pelabuhan masa lampau Indonesia, seperti selat Malaka, Sunda Kelapa, Banten menjadi tempat bertemunya kapal perniagaan asing.

Lalu ketiga, secara geopolitik, Indonesia tidak punya musuh secara politik dengan negara-negara lain. Hal itu disebabkan, Indonesia mempunyai jaringan lewat organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, G-20, ASEAN, dan beberapa organisasi dunia lainnya.

Keempat, Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam yang melimpah. Dirinya mengklaim, Indonesia punya daerah-daerah yang berpotensi SDA-nya, namun dari segi infrastruktur dan teknologi pengembangang masih dirasa kurang.

Lalu kelima, sebanyak 65% penduduk Indonesia berasal dari usia produktivitas yang tinggi. Baginya, pada masa usia produktif,tingkat ketergantungan penduduk berkurang. Mereka pun selalu berusaha untuk mandiri dan berinovatif, contohnya para pengusaha muda.

Dan faktor terakhir ialah dari segi modalitas dan investasi asing di Indonesia yang masih sangat besar.

Ia pun menilai, pada kuartal pertama 2012 ketika negara lain terkena dampak krisis, Indonesia malah mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3%.

"Kami optimistis, kuartal 2 nanti pertumbuhannya mencapai 6,5-6,7%. Pertumbuhan ekonomi 0,1% saja bisa menyerap sekitar 300-400 ribu tenaga kerja," tutur Ediputra. (Dimasyq Ozal/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×