Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi rokok elektronik sebagai alternatif yang bisa mengurangi bahaya dari rokok menjadikan produk ini banyak dipilih oleh perokok dewasa untuk pindah total. Seiring itu, pertanyaan terkait risiko penggunaannya juga turut mengemuka. Salah satunya tentang hubungan antara penggunaan rokok elektronik dengan diabetes.
Sebuah hasil kajian internasional berjudul “Association between electronic cigarette use and prediabetes, diabetes, and insulin resistance: a systematic review and meta-analysis” menunjukkan bahwa bukti ilmiah yang tersedia saat ini belum menunjukkan penggunaan rokok elektronik menyebabkan diabetes.
Baca Juga: BRIN Ungkap Vape Berdampak pada Risiko Diabetes, Hasil Uji Capai 100%
Penelitian yang dipimpin oleh Riccardo Polosa, professor dari University of Catania, Italia, tersebut menggabungkan 10 studi observasional dengan total lebih dari 2,8 juta orang dewasa di Amerika Serikat, Skotlandia, dan Korea Selatan. Kajian tersebut mengevaluasi hubungan penggunaan rokok elektronik dengan prediabetes, diabetes, dan resistensi insulin.
Hasilnya, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan vape dengan diabetes. Temuan ini diperkuat oleh satu-satunya studi prospective cohort dalam kajian tersebut, yaitu penelitian yang mencermati kondisi kesehatan sekitar 249 ribu responden selama empat tahun. Studi tersebut juga tidak menemukan peningkatan kejadian diabetes tipe 2 yang signifikan secara statistik pada pengguna rokok elektronik.
“Bukti yang ada saat ini tidak menunjukkan adanya hubungan independen yang jelas antara penggunaan rokok elektronik dan diabetes yang didiagnosis secara klinis,” demikian tertulis dalam laporan, dikutip Minggu (9/10).
Temuan tersebut diperoleh melalui pendekatan systematic review dan meta-analysis, yang menggabungkan serta menganalisis secara menyeluruh hasil berbagai penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya. Melalui pendekatan ini, para peneliti berupaya memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara penggunaan rokok elektronik dan berbagai indikator terkait diabetes.
Menurut tim peneliti, temuan tersebut penting untuk menjadi pertimbangan dalam memahami risiko kesehatan maupun merumuskan respons kebijakan yang berbasis bukti ilmiah. Mereka menilai bahwa setiap kesimpulan mengenai hubungan antara suatu produk dan penyakit perlu mempertimbangkan keseluruhan hasil penelitian yang tersedia, terutama ketika bukti yang ada belum menunjukkan hubungan sebab-akibat yang jelas.
“Setiap interpretasi harus dilakukan secara hati-hati, proporsional terhadap bukti ilmiah yang ada, serta membedakan secara jelas antara risiko yang telah terkonfirmasi dan hipotesis yang belum terbukti,” tulisnya.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya dampak kesehatan mendasar yang dapat dihasilkan oleh penggunaan rokok elektronik berdasarkan hasil pengujian internal mereka.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa berdasarkan uji medis yang dilakukan oleh BRIN, penggunaan vape terbukti membawa dampak negatif pada kesehatan manusia. Masalah utama yang diidentifikasi oleh BRIN mencakup gangguan pada paru-paru, organ pankreas, hingga penyakit diabetes.
Selain risiko kesehatan, BRIN juga memperingatkan adanya bahaya lain terkait penggunaan cairan vape. Perangkat rokok elektronik dinilai dapat menjadi celah baru yang dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk penyalahgunaan dan penyebaran narkoba.
Sekedar informasi, Berdasarkan Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna terbesar vape berada pada rentang usia 18-59 tahun. Pada kelompok umur yang sama, jumlah pemakai rokok tembakau tetap jauh lebih banyak dibandingkan pengguna vape.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














