kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.066   6,00   0,03%
  • IDX 5.397   68,95   1,29%
  • KOMPAS100 696   9,59   1,40%
  • LQ45 542   5,99   1,12%
  • ISSI 185   3,15   1,74%
  • IDX30 304   2,92   0,97%
  • IDXHIDIV20 396   2,58   0,66%
  • IDX80 80   1,10   1,39%
  • IDXV30 110   0,99   0,91%
  • IDXQ30 100   1,04   1,05%

Menakar Dampak Stimulus Nataru Terhadap Pertumbuhan Ekonomi


Kamis, 22 Oktober 2026 / 09:25 WIB
Menakar Dampak Stimulus Nataru Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
ILUSTRASI. Stimulus diskon transportasi Nataru lebih banyak menghemat ongkos perjalanan. Dampaknya ke pertumbuhan ekonomi bergantung pada tambahan belanja. Kapal Pelni (KONTAN/Amalia Fitri)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diskon transportasi Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru) senilai Rp 883,4 miliar diperkirakan belum cukup kuat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pasalnya, stimulus ini lebih banyak mengurangi biaya perjalanan masyarakat daripada menciptakan tambahan konsumsi baru.

Pemerintah menyiapkan diskon tiket kereta api dan kapal Pelni sebesar 30%, pembebasan tarif jasa kepelabuhanan penyeberangan ASDP, serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) 100% untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, stimulus Nataru menggunakan skema serupa insentif Lebaran.

Baca Juga: Pemerintah Tebar Stimulus Nataru, Anggarannya Capai Rp 883 Miliar

Namun, sebagian pembiayaannya berasal dari operator dan penyesuaian tarif, bukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, dampak stimulus tersebut terhadap daya beli masyarakat masih terbatas.

Potongan harga tiket memang meringankan biaya perjalanan, tetapi belum tentu mendorong masyarakat menambah perjalanan maupun belanja.

"Manfaatnya lebih terbatas pada pengurangan biaya perjalanan bagi masyarakat yang memang sudah merencanakan bepergian," ujar Yusuf, Rabu (21/10/2026).

Menurut dia, stimulus ini tetap berpeluang memberikan efek positif terhadap aktivitas ekonomi daerah tujuan wisata.

Peningkatan kunjungan wisatawan dapat menggerakkan belanja di hotel, restoran, sektor perdagangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, besarnya dampak terhadap perekonomian bergantung pada seberapa besar belanja tambahan yang tercipta selama periode liburan. Yusuf memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5%–5,2% sepanjang 2026.

Baca Juga: Stimulus Nataru Dinilai Hanya Bantu Mobilitas, Bukan Dongkrak Daya Beli

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Muhammad Rizal Taufikurahman juga menilai, efektivitas stimulus tidak cukup diukur dari besarnya potongan harga tiket.

Pemerintah perlu memastikan insentif tersebut benar-benar mendorong konsumsi tambahan.

"Tambahan pertumbuhan bergantung pada belanja baru yang benar-benar tercipta," kata Rizal.

Karena itu, Rizal meminta pemerintah memastikan harga akhir tiket benar-benar turun dan manfaat diskon tidak tergerus kenaikan tarif dasar maupun biaya tambahan.

Pemerintah juga perlu mengevaluasi dampak stimulus melalui pertumbuhan konsumsi masyarakat, omzet UMKM, dan pendapatan pekerja.

Baca Juga: Diskon Nataru Minim Dongkrak Konsumsi

Dengan demikian, stimulus Nataru berpotensi menopang aktivitas ekonomi selama liburan, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan bergantung pada kemampuan insentif tersebut menciptakan belanja baru, bukan sekadar menghemat biaya perjalanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×