kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Konsumen kian pesimistis, Ekonom Core: Prospek ekonomi belum membaik


Jumat, 03 Juli 2020 / 17:52 WIB
ILUSTRASI. Pemulihan Sektor Ritel: Pengunjung di salah satu gerai pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (16/6). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan pemulihan bisnis ritel akan berjalan lambat tahun ini karena daya beli masyarakata belum pulih akibat p


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

Untuk itu, dalam mengungkit optimisme konsumen, Yusuf memandang perlu untuk pemerintah segera memperbaiki sistem dan mempercepat penyaluran bantuan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, Yusuf juga mengimbau agar pemerintah memikirkan faktor psikologis konsumen. Menurutnya, faktor psikologis juga merupakan salah satu faktor penting dalam menaikkan optimisme konsumen.

Baca Juga: Bursa Asia berguguran menyusul Wall Street

Caranya, bisa dengan meningkatkan persepsi masyarakat kalau pemerintah benar-benar fokus dalam memberantas Covid-19 dengan memperbanyak kapasitas identifikasi Covid-19 dan dukungan lain bagi sektor kesehatan agar proses pemulihan bisa cepat dan optimal.

"Faktor psikologis sangat perlu. Kita ambil contoh Amerika Serikat (AS) ketika aktivitas eknomi dibuka, ternyata tdiak serta merta mendorong masyarakat berbelanja. Ini karena AS masih mencatatkan kenaikan kasus yang tinggi," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×