Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan belum mengeluarkan peringatan perjalanan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan bepergian ke Eropa.
"Untuk travel warning ke Eropa saat ini belum ada," kata Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Heni Hamidah, Kamis (22/10/2026).
Kendati demikian, Heni mengimbau WNI untuk memantau situasi di Eropa pascakerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu di sejumlah negara seperti Perancis dan Italia.
Ia juga mendorong WNI untuk terus memantau informasi resmi dari otoritas setempat.
"Bagi WNI yang berada di Eropa, diharapkan dapat menyesuaikan rencana perjalanan dengan memperhatikan kemungkinan adanya gangguan transportasi umum di Eropa sendiri ya," ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Hingga CDS Naik Membayangi Ruang Pembiayaan Fiskal Pemerintah
Tak Ada WNI yang Jadi Korban
Heni memastikan WNI yang berada di Perancis dan Italia seluruhnya dalam keadaan selamat. Menurutnya tak ada WNI yang jadi korban pascakerusuhan yang terjadi di dua negara tersebut.
"Jadi berdasarkan perwakilan RI kita terkait di Prancis maupun Italia, yaitu di KBRI Perancis, KJRI Marseille dan KBRI Roma, hingga saat ini belum terdapat laporan terkait adanya WNI yang terdampak atas kerusuhan demonstrasi tersebut," ungkap Heni.
Heni menegaskan, Kemlu dan perwakilan RI tersebut terus memantau perkembangan dan situasi keamanan terkini pascademonstrasi.
Pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk memastikan keselamatan WNI.
"Dan tentunya menjaga komunikasi dengan para WNI," ujarnya.
Dalam kondisi darurat, WNI di wilayah Prancis dan Italia dapat menghubungi:
- Hotline KBRI Paris melalui nomor +33-6-2112-2109
- Hotline KBRI Roma melalui nomor +39-338-954-2333.
Baca Juga: Pemerintah Perkuat Pesantren, dari Pendidikan hingga Pemberdayaan Ekonomi
Demonstrasi di Eropa
Menurut laporan The Telegraph, sekitar 550.000 orang turun ke jalan dalam demonstrasi yang melibatkan gerakan rompi kuning, serikat pekerja, dan kelompok mahasiswa.
Sebanyak 110.000 demonstran di antaranya berada di Paris.
Gelombang kerusuhan tersebut bermula dari aksi para pelajar yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Gerakan itu awalnya muncul sebagai protes terhadap kekurangan guru dan kondisi sekolah menengah yang memburuk di wilayah pinggiran Paris.
Sejumlah sekolah bahkan dibakar. Seruan melalui media sosial kemudian mendorong demonstran di berbagai wilayah untuk menghidupkan kembali gerakan "rompi kuning" yang muncul pada 2018 sebagai gerakan menentang kenaikan biaya hidup.
Baca Juga: Prabowo Bidik Kredit Rakyat Rp 400 Triliun pada 2027, Sasar 28 Juta Keluarga
Gerakan tersebut kemudian meluas dengan keterlibatan serikat pekerja yang mewakili perawat, guru, petani, dan pengemudi taksi, serta aktivis lingkungan.
Laporan AFP menyebutkan, setidaknya ada 1.200 orang ditangkap dalam aksi tersebut, dan 150 polisi dinyatakan terluka.
Aksi tersebut kemudian meluas hingga ke beberapa negara Eropa lainnya, termasuk Albania, Spayol, hingga Italia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














