kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.686   100,00   0,57%
  • IDX 6.508   -215,46   -3,20%
  • KOMPAS100 863   -29,86   -3,34%
  • LQ45 642   -16,32   -2,48%
  • ISSI 235   -7,52   -3,09%
  • IDX30 364   -7,63   -2,06%
  • IDXHIDIV20 450   -5,73   -1,26%
  • IDX80 99   -3,10   -3,05%
  • IDXV30 127   -2,37   -1,83%
  • IDXQ30 117   -1,78   -1,50%

Kemenhaj Ungkap Alasan Penyediaan Makanan Siap Santap untuk Jemaah Haji di Armuzna


Senin, 18 Mei 2026 / 13:42 WIB
Kemenhaj Ungkap Alasan Penyediaan Makanan Siap Santap untuk Jemaah Haji di Armuzna
ILUSTRASI. Jumlah jamaah calon haji Indonesia di Makkah (ANTARA FOTO/Citro Atmoko)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – MAKKAH. Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan alasan di balik penyediaan makanan siap santap (ready to eat) bagi jemaah haji Indonesia selama fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Skema ini dipilih untuk memastikan kebutuhan konsumsi jutaan jemaah dapat terpenuhi secara cepat, aman, dan tetap memenuhi standar gizi di tengah tingginya mobilitas selama puncak haji.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Maria Assegaff menjelaskan, rangkaian puncak ibadah haji akan dimulai pada 8 Zulhijjah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan Senin, 25 Mei 2026, saat jemaah mulai bergerak dari Kota Makkah menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Baca Juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, Bank Tanah Alokasikan Ratusan Hektare Lahan

Menurutnya, fase ini merupakan periode paling padat dalam seluruh rangkaian ibadah haji karena jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi tersebut membuat seluruh layanan, termasuk konsumsi, harus dipastikan berjalan cepat, tepat, dan aman.

“Nah, pemerintah memilih skema catering ready to eat atau makanan siap santap sebagai solusi layanan konsumsi saat jelang, selama hingga pasca puncak haji,” tutur Maria dalam konferensi pers, Senin (18/5/2026).

Adapun Ada empat pertimbangan utama di balik pemilihan skema ini. Pertama, kecepatan distribusi di tengah kepadatan mobilitas jemaah. Kedua, kemudahan konsumsi bagi jemaah tanpa memerlukan proses pemanasan atau penyajian rumit.

Ketiga, daya tahan makanan yang lebih lama sehingga aman dibagikan dalam situasi logistik yang kompleks. Keempat, tetap terjaminnya standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan.

Selain faktor teknis, makanan siap santap tersebut juga dirancang dengan cita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan lidah jemaah Indonesia sekaligus menjadi pelepas rindu kampung halaman di tengah pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Selama fase Armuzna, jemaah haji Indonesia akan menerima total 15 porsi makanan bercita rasa Indonesia yang disediakan pihak syarikah.

Rinciannya, sembilan porsi diberikan selama fase Armuzna dan enam porsi lainnya dibagikan pada fase pra-Armuzna pada 7–8 Zulhijjah serta pasca-Armuzna pada 13 Zulhijjah, yang bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026.

Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh makanan siap santap tersebut akan mulai didistribusikan ke hotel-hotel jemaah pada 6 Zulhijjah 1447 Hijriah atau 23 Mei 2026, sebelum pergerakan menuju Armuzna dimulai.

“Pemerintah memahami betul bahwa kualitas konsumsi ini sangat berpengaruh tentunya terhadap kondisi fisik jemaah. Oleh sebab itu, pengawasan dilakukan secara ketat mulai dari proses produksi, kemudian juga pengemasan, bahkan hingga distribusinya nanti,” ungkapnya.

Untuk menjamin kualitasnya, pengawasan dilakukan secara ketat sejak proses produksi, pengemasan, hingga distribusi. Teknologi pengolahan yang digunakan juga diklaim mampu menjaga makanan tetap higienis dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitas rasa maupun kandungan gizinya.

Pemerintah berharap layanan konsumsi yang terjamin ini dapat membantu jemaah menjaga stamina dan kesehatan sehingga bisa lebih fokus menjalankan ibadah secara khusyuk.

Menjelang fase puncak haji, pemerintah juga mengimbau jemaah untuk menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas fisik yang tidak perlu, dan mematuhi arahan petugas.

Khusus bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta atau masuk kategori risiko tinggi, pemerintah meminta agar selalu berkoordinasi dengan ketua regu, ketua rombongan, petugas kesehatan, maupun petugas sektor, serta tidak ragu meminta bantuan jika mengalami keluhan kesehatan.

Baca Juga: ESDM: Penggunaan CNG Berpotensi Kurangi Subsidi LPG hingga 40%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×