Reporter: Noverius Laoli | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Kenaikan harga menjelang perayaan hari besar di Indonesia sudah menjadi tren setiap tahun. Untuk mengontrol dan mengendalikan kenaikan harga tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemdag) segera mengeluarkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah mengefisienkan perdagangan antar pulau. Caranya adalah dengan mempertemukan petani dengan pengusaha lokal untuk meningkatkan kerjasama perdagangan.
Direktur Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina mengatakan telah mempersiapkan strategi baru berupa kebijakan untuk menstabilisasi harga bahan kebutuhan pokok. Kemdag nanti akan mengefisienkan supply chain antara petani dan pedagang sehingga harga kebutuhan pokok tidak liar. "Sekarang kita akan bikin surat, tapi nanti aja saya sampaikan kalau sudah diteken pak Mendag dulu," ujar Srie kepada KONTAN di Gedung Kemdag, Kamis (2/7).
Meskipun enggan membeberkan surat apa yang akan dibikin Kemdag, tapi Srie mengatakan surat tersebut bertujuan untuk mewujudkan upaya pemerintah mengendalikan gejolak harga yang cenderung meningkat, walaupun tengah memasuki masa panen. Ia menjelaskan, nantinya Kemdag akan menentukan berapa persen margin yang diperbolehkan diambil pedagang dan petani. "Yah mungkin kurang lebih sektiar 10% misalnya, tapi bagaimana dengan margin yang diberikan itu mereka mendapatkan keuntungan yang wajar," imbuh Srie.
Srie mengungkapkan, nantinya Kemdag akan membangun prinsip keterbukaan antar pengusaha agar betul-betul memiliki integritas yang siap membangun akses petani ke pasar. Jadi Kemdag mendorong agar para pedagang betul-betul bisa menjadi akses petani kepada pasar. Artinya disparitas harga dari petani dan di pasar tidak terlalu jauh. Sebab selama ini, Kemdag menemukan rata-rata margin keuntungan yang diambil pedagang antara 17% sampai 30%. Dengan margin yang tinggi itu, petani hanya mendapatkan sedikit keuntungan, sementara konsumen membayar dengan harga yang mahal. Dan justru pedagang yang mendapatkan keuntungan yang besar.
Menurut Srie salah satu contohnya di satu tempat seperti Sumatera harga cabai mencapai Rp 40.000 per kilogram (kg), tapi di tempat lain justru hanya Rp 13.000 - Rp 15.000. Nah kasus-kasus seperti ini yang hendak diselesaikan dengan membangun kerjasama antar pulau sehingga disparitas harga kebutuhan pokok tidak terlalu jauh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













