kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Kasus Anas Perebutan Menyusun DCS


Sabtu, 02 Maret 2013 / 11:36 WIB
ILUSTRASI. Perawatan Mudah untuk Cegah Kerutan Wajah di Usia 20 Tahun


Reporter: Amal Ihsan Hadian | Editor: Amal Ihsan

JAKARTA. Perseteruan antara bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah persoalan kewenangan dalam menyusun Daftar Calon Anggota Legislatif Sementara (DCS).

"Andaikan nggak ada DCS, nggak akan ada kejadian yang menghebohkan ini. Itu yang ingin diambil alih SBY (sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat). Kalau tidak ada DCS , nggak akan ada ini. Prioritas sekarang adalah siapa yang menguasi DCS," ujar wartawan senior KOMPAS Budiarto Sambhazy, dalam diskusi bertajuk 'Efek Anas Makin Panas' di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (2/3/2013).

Menurut Baz, sapaan akrbanya, kasus korupsi yang menerpa Anas Urbaningrum hanya lah bunga-bunga semata dalam perebutan kewenangan DCS. Cuma, Budiarto pesimis akan keberanian Anas dalam membuka dalam membuka borok Demokrat seperti yang dijanjikannya.

Bekas Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu dinilai tidak akan seberani Nazaruddin, bekas bendahara Umum Partai Demokrat, dalam membeberkan kasus korupsi di tubuh Demokrat. "Dokumen-dokumen sudah keluar dari dulu. Sejak dulu Nazaruddin sudah bilang sekjen (Edhi Baskoro Yudhoyono) terlibat," kata Baz. 

Tribunnews.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×