kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Jokowi Akan Bacakan RAPBN 2023, Defisit Anggaran Harus di Bawah 3% PDB


Selasa, 16 Agustus 2022 / 10:09 WIB
ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan RAPBN 2023 di hadapan wakil rakyat pada hari ini, Selasa (16/8).


Reporter: Bidara Pink | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 di hadapan wakil rakyat pada hari ini, Selasa (16/8). 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyebut, angka final yang akan disebutkan oleh Jokowi, salah satunya terkait defisit APBN 2023. Pemerintah mematok, defisit anggaran pada tahun depan di bawah 3% produk domestik bruto (PDB). 

“Pertumbuhan defisit APBN harus di bawah 3% dan harus ada keberlanjutan dari sisi belanja negara yang tetap mendukung berbagai prioritas nasional,” tutur Sri Mulyani setelah sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, awal bulan ini. 

Baca Juga: Menanti Pengumuman Gaji PNS di Nota Keuangan 2023

Dengan defisit fiskal yang lebih sempit, belanja akan diprioritaskan untuk tetap mendukung berbagai prioritas nasional. Seperti, pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan juga pembangunan infrastruktur, termasuk Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. 

“Kami akan mengarahkan belanja pusat dan daerah untuk program prioritas nasional dan pembiayaan akumulasi dari dana abadi pendidikan yang dikelola sebagai warisan untuk generasi yang mendatang,” tambah Sri Mulyani. 

Baca Juga: Aktivitas Masyarakat Melesat, Impor BBM dan Gas Membludak

Sedangkan dari sisi pendapatan negara, pemerintah akan tetap berusaha menggenjot pendapatan negara, meski di tahun depan agaknya windfall profit dari tingginya harga komoditas tidak akan terulang. 

Bendahara negara berharap, angka yang sudah dirancang oleh pemerintah ini masih tetap menjaga perekonomian Indonesia untuk berdaya. Pasalnya pada tahun depan, masih ada ketidakpastian seperti ketegangan geopolitik antara Rusia dan China. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×