kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Jokowi ajak Perdana Menteri Malaysia berjuang hadapi diskriminasi sawit


Jumat, 05 Februari 2021 / 18:10 WIB
Jokowi ajak Perdana Menteri Malaysia berjuang hadapi diskriminasi sawit
ILUSTRASI. Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dalam upacara penyambutan di Istana Kepresidenan Indonesia, Jumat, 5 Februari 2021.


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin untuk bersama-sama berjuang melawan diskriminasi sawit.

Hal ini disampaikannya dalam upacara penyambutan Perdana Menteri Malaysia di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (5/2).

"Indonesia akan terus berjuang untuk melawan diskriminasi terhadap sawit dan perjuangan tersebut akan lebih optimal jika dilakukan bersama," ujar Jokowi.

Jokowi pun berharap, Malaysia memiliki komitmen yang sama dalam mengatasi isu-isu yang berkaitan dengan sawit.

Baca Juga: Ekspor minyak sawit diramal naik dua digit pada tahun 2021, ini pendorongnya

Seperti diketahui, komoditas sawit mengalami berbagai hambatan di pasar internasional. Salah satunya terkait kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) yang dianggap mendiskriminasi kelapa sawit.

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin pun memastikan bahwa Malaysia akan terus bekerjasama dengan Indonesia dalam isu diskriminasi minyak sawit.

"Ini memastikan kita dapat melindungi industri sawit, terutamanya menyelamatkan berjuta-juta pekebun-pekebun kecil yang bergantung hidup sepenuhnya kepada industri sawit di Malaysia dan Indonesia," ujarnya.

Muhyiddin menilai, adanya kampanye anti minyak sawit pun tidak berasas dan tidak menggambarkan kelestarian industri sawit dunia. Dia pun menilai kampanye anti minyak sawit ini berlawanan dengan komitmen kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai perdagangan bebas.

Selanjutnya: Indonesia dan Malaysia menggagas pertemuan ASEAN tentang Myanmar pasca kudeta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×