Reporter: Edy Can | Editor: Edy Can
JAKARTA. Pemerintah Jerman menyerahkan sistem peringatan dini untuk Lautan Hindia kepada Indonesia. Penyerahan ini dilakukan setelah enam tahun keikusertaan Jerman dalam proyek sistem peringatan dini pasca bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam.
Dengan penyerahan ini maka Indonesia mengambil alih seluruh sistem serta tanggung jawabnya. "Dengan Sistem peringatan dini ini, Jerman ikut serta membangun kembali kehidupan bagi mereka yang tinggal di daerah pantai dengan memberikan masa depan yang lebih pasti," ujar Sekretaris Negara Parlemen Jerman Thomas Rachel dalam siaran pers yang diterima KONTAN, Selasa (29/3).
Selama pengoperasian bersama Jerman-Indonesia, sistem ini telah mendeteksi 10 gelombang tsunami sejak beroperasi 2008 lalu. Salah satunya termasuk, tsunami yang terjadi di pantai timur laut Jepang yang terjadi pada 11 Maret lalu.
Sistem peringatan dini tsunami Indonesia-Jerman di Lautan Hindia (GITWES) ini memberikan peringatan maksimal lima menit setelah gempa terjadi. Sistem sensoriknya lebih dari 300 stasiun terukur yang dipasang di lepas pantai Indonesia dan memiliki berbagai alat seperti seismoter, global positioning system (GPS) dan pendulum pantai. Hasil sensorik ini kemudian akan diteruskan ke sistem simulasi tsunami yang kemudian akan memberikan gambaran tingkatan bahaya pada bagian pantai tertentu.
Rachel mengatakan, tsunami merupakan bahaya laten. Karena itu, dia mengatakan sistem peringatan dini ini dapat mengurangi dampak dan jumlah korban. "Inilah tujuan utama dari GITEWS," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













