kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Jangkau 60 Juta Penerima Manfaat, MBG Gandeng 69.551 UMKM Pemasok Bahan Baku


Minggu, 01 Februari 2026 / 14:47 WIB
Jangkau 60 Juta Penerima Manfaat, MBG Gandeng 69.551 UMKM Pemasok Bahan Baku
ILUSTRASI. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim telah menjangkau 60 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak, ibu hamil hingga lansia. (ANTARA FOTO/Yudi Manar)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim telah menjangkau 60 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak, ibu hamil hingga lansia. 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, program MBG ini turut berdampak pada tumbuhnya ekonomi rakyat termasuk meningkatkat penghasilan UMKM. 

Menurutnya, saat ini sudah ada 68.551 pemasok bahan baku baik dari UMKM hingga koperasi yang dilibatkan menjadi mitra Badan Gizi Nasional (BGN). 

"Supplier bahan baku ada 68.551, saudara tahu dong satu supplier itu kan UMKM berapa banyak yang kerja disitu," katanya dijumpai di Kantornya, Jum'at (30/1/2026). 

Baca Juga: Anggaran MBG Digugat di MK, BGN: Kami Hanya Fokus Sebagai Penyelenggara

Zulhas menyebut, MBG ini turut membuka sebanyak 924.424 lapangan kerja bagi masyarakat di Indonesia. Selain itu, BGN juga tengah memproses pengangkatan P3K sebanyak 32.000 orang di instansi tersebut. 

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menegaskan bahwa tiada ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menola produk petani, pelaku UMKM ataupun pemasok bahan baku lainnya. 

Dadan menyebut SPPG membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan berkelanjutan agar layanan pemenuhan gizi dapat berjalan optimal.

Karena itu, persoalan yang muncul berkaitan dengan kemampuan penyedia lokal menjaga volume dan kesinambungan distribusi.

"Tidak ada, tidak ada, tidak ada. Ini hanya masalah kontinuitas suplai. Jadi SPPG ini kan butuh jumlah besar, dan butuh kontinuitas," ujar Dadan dalam kesempatan yang sama. 

Dadan menegaskan seluruh produk yang diproduksi secara lokal justru diprioritaskan untuk masuk ke SPPG. Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi lokal sekaligus memastikan bahan pangan sesuai kebutuhan gizi masyarakat setempat. 

"Jadi seluruh produk yang diproduksi lokal itu memang diutamakan masuk ke SPPG," imbuhnya. 

Baca Juga: Program MBG Tetap Berjalan di Bulan Puasa, Berikut Menunya

Selanjutnya: OJK Sebut Peluang Pemulihan Kinerja Asuransi Kendaraan Tetap Terbuka pada 2026

Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×