Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di sektor hilirisasi sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp 480 triliun. Capaian tersebut tumbuh 11,3% secara tahunan (year on year/yoy) dan berkontribusi sebesar 31,2% terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp 1.539,2 triliun.
Berdasarkan capaian per kuartal, realisasi investasi sektor hilirisasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 179,9 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada kuartal I-2026 sebesar Rp 147,5 triliun dan kuartal II-2026 sebesar Rp 152,7 triliun.
Dari sisi komoditas, investasi sektor hilirisasi masih didominasi oleh sektor mineral dengan nilai mencapai Rp 335,1 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari komoditas nikel sebesar Rp 118,9 triliun dan bauksit sebesar Rp 115,7 triliun.
Selanjutnya, investasi pada hilirisasi besi baja mencapai Rp 40,8 triliun, tembaga Rp 39,5 triliun, serta pasir silika Rp 7 triliun. Adapun investasi pada komoditas mineral lainnya, seperti timah, batubara, kobalt, mangan, emas dan perak, aspal Buton, serta logam tanah jarang, mencapai Rp 13,2 triliun.
Sementara itu, investasi pada hilirisasi sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp 83,6 triliun. Investasi tersebut antara lain berasal dari komoditas kelapa sawit sebesar Rp 44,4 triliun, kayu log Rp 25,3 triliun, dan karet Rp 8,9 triliun. Adapun komoditas lainnya, seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel, menyumbang Rp 4,9 triliun.
Baca Juga: Rosan Roeslani: Investasi Hilirisasi Sudah Capai 35% dari Total Investasi
Di sektor minyak dan gas bumi, realisasi investasi hilirisasi tercatat sebesar Rp 54 triliun, yang terdiri dari investasi minyak bumi sebesar Rp 41,1 triliun dan gas bumi Rp 12,9 triliun.
Adapun investasi hilirisasi sektor perikanan dan kelautan mencapai Rp 7,3 triliun. Investasi ini mencakup komoditas garam, ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia.
Berdasarkan asal modal, investasi hilirisasi masih didominasi oleh penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 357,6 triliun atau 75% dari total investasi. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp 122,4 triliun atau 25%.
Dari sisi sebaran wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa dengan nilai mencapai Rp 373,1 triliun atau sekitar 78% dari total investasi. Sementara itu, investasi di Pulau Jawa mencapai Rp 106,9 triliun atau 22%.
Adapun berdasarkan negara asal investor, Hong Kong menjadi penyumbang investasi terbesar di sektor hilirisasi dengan nilai Rp 146 triliun. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar Rp 116,1 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp 34,1 triliun, Jepang Rp 12,5 triliun, dan Korea Selatan Rp 8,7 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani mengatakan, pemerintah akan terus mendorong peningkatan investasi hilirisasi untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Menurut Rosan, kontribusi investasi hilirisasi terhadap total investasi nasional terus meningkat. Pada 2024, kontribusinya masih sekitar 26%, sedangkan pada kuartal III-2026 mencapai 35%. Adapun secara kumulatif Januari-September 2026, kontribusinya tercatat sebesar 31,2%.
"Kalau kami melihat trennya, pada 2024 kontribusi hilirisasi masih sekitar 26%. Pada kuartal III tahun ini sudah 35%. Tentunya, kami akan terus mendorong investasi ini agar meningkat menjadi investasi yang berkualitas," ujar Rosan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026).
Lebih lanjut Rosan menyebut pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan nilai investasi, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi, dan penguatan rantai pasok industri.
Baca Juga: Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp180 Triliun di Halmahera
Rosan mengakui, sejumlah investasi bersifat padat modal sehingga penyerapan tenaga kerjanya tidak sebanyak investasi di sektor perkebunan dan pertanian. Namun, investasi tersebut dinilai tetap penting apabila mampu mendorong Indonesia masuk ke dalam ekosistem rantai pasok global.
"Apabila investasi itu membuat kita menjadi bagian dari ekosistem value chain atau rantai pasok dunia, itu juga yang kita inginkan," katanya.
Rosan mencontohkan pengembangan hilirisasi nikel dan industri baterai sebagai sektor yang akan terus didorong pemerintah. Ke depan, pemerintah juga akan memperhatikan keseimbangan produksi bahan baku dan produk turunannya agar makin meningkat.
Ia juga berharap agar pengembangan dan penggunaan teknologi di ssektor hilirisasi makin baik agar dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mendorong transfer teknologi di industri nasional.
Baca Juga: Hilirisasi Dikebut, Investasi US$618 Miliar Ditargetkan Serap 3 Juta Tenaga Kerja
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













