kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.918.000   -22.000   -0,75%
  • USD/IDR 16.859   17,00   0,10%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Hasil Sidang Isbat: Puasa Ramadan 1447 H Dimulai Kamis 19 Februari 2026


Selasa, 17 Februari 2026 / 20:07 WIB
Hasil Sidang Isbat: Puasa Ramadan 1447 H Dimulai Kamis 19 Februari 2026
ILUSTRASI. Pemerintah resmi tetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh 19 Februari 2026. Keputusan ini hasil sidang isbat, pastikan Anda siap berpuasa. (dok./Kjpargeter)


Reporter: Handoyo | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Selasa (17/2/2026).

“Berdasar hasil hisab serta tidak ada laporan hilal terlihat, disepakati 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers usai sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H.

Dengan penetapan ini, umat Islam di Indonesia dapat mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Mekanisme Penetapan Awal Ramadan

Sidang isbat merupakan forum resmi yang digelar pemerintah untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Forum ini telah dilaksanakan sejak 1950-an sebagai ruang musyawarah antara pemerintah dan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Baca Juga: BREAKING NEWS Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari 2026

Dalam prosesnya, pemerintah mengompilasi dan memverifikasi dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi hilal) yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia. Hasil kedua metode tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan secara musyawarah dan mufakat.

Rangkaian dan Peserta Sidang Isbat

Rangkaian sidang isbat diawali dengan Seminar Posisi Hilal pada pukul 16.30 WIB yang menghadirkan pakar astronomi dan ahli falak. Sidang isbat kemudian dilaksanakan secara tertutup pada pukul 18.30 WIB, dan hasilnya diumumkan kepada publik melalui konferensi pers pukul 19.35 WIB.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, hingga Mahkamah Agung Republik Indonesia. Turut hadir pula Majelis Ulama Indonesia (MUI), para ahli dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selain itu, akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), perwakilan planetarium, anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, pakar falak dari berbagai ormas Islam, hingga pimpinan pondok pesantren turut berpartisipasi.

Posisi Hilal Masih di Bawah Ufuk

Kementerian Agama menyampaikan bahwa posisi hilal menjelang awal Ramadan 1447 H pada 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk, sehingga secara teoritis mustahil dapat dirukyat.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, dalam Seminar Posisi Hilal di Jakarta.

“Metode penetapan awal kamariah di Indonesia menggunakan rukyat dan hisab, di mana ijtimak harus terjadi dan posisi hilal diamati setelah matahari terbenam. Pada 17 Februari 2026, secara astronomis posisi hilal masih berada di bawah ufuk,” ujarnya.

Baca Juga: Resmi! Puasa Ramadan 1447 H Dimulai Kamis, 19 Februari 2026

Berdasarkan data hisab, tinggi hilal di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada rentang -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°). Sementara elongasi Bulan–Matahari tercatat antara 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).

Data tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat yang ditetapkan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat.

“Di seluruh wilayah NKRI, posisi hilal tidak memenuhi kriteria imkan rukyat MABIMS. Oleh karena itu, hilal menjelang awal Ramadan 1447 H pada hari rukyat ini secara teoritis diprediksi mustahil dapat dirukyat,” tegas Cecep.

Data Astronomis di Sejumlah Titik

Di Jakarta Pusat, saat matahari terbenam pukul 18.15.17 WIB, tinggi hilal tercatat -1,05° dengan elongasi 1,04°. Bulan terbenam lebih dahulu pada pukul 18.11.40 WIB, atau 3 menit 37 detik sebelum matahari terbenam. Umur hilal minus 45 menit 50 detik, menunjukkan ijtimak terjadi setelah matahari terbenam.

Kondisi serupa terjadi di Sabang, Aceh. Saat matahari terbenam pukul 18.51.06 WIB, tinggi hilal berada di posisi -0,98° dengan elongasi 0,94°. Bulan terbenam pada pukul 18.47.44 WIB, atau 3 menit 22 detik sebelum matahari terbenam. Umur hilal minus 10 menit 1 detik, menandakan ijtimak belum terjadi saat matahari terbenam.

Baca Juga: Penyaluran Bansos Pangan Jelang Bulan Ramadhan Dinilai Mampu Jaga Stabilitas Harga

“Secara astronomis, kondisi ini menunjukkan bahwa hilal berada di bawah ufuk dan tidak mungkin terlihat, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik,” jelasnya.

Pedoman Bersama untuk Umat Islam

Paparan ilmiah tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan sidang isbat. Pemerintah juga mempertimbangkan laporan hasil rukyat dari 96 titik pemantauan di seluruh Indonesia sebelum menetapkan awal Ramadan 1447 H secara resmi.

Dengan keputusan ini, pemerintah berharap penetapan awal Ramadan dapat menjadi pedoman bersama guna menjaga persatuan dan keseragaman pelaksanaan ibadah umat Islam di seluruh Tanah Air.

Selanjutnya: Jadwal Imsakiyah Kota Probolinggo Ramadan 2026 Lengkap

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kota Probolinggo Ramadan 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×