Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal II 2026.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, awalnya memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun 2026 berada di level 0,4% dari produk domestik bruto (PDB).
Namun, dinamika global terbaru membuka kemungkinan perubahan arah. “Defisit neraca transaksi berjalan bisa lebih baik dari angka tersebut,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (5/4/2026).
Ia menjelaskan, di tengah konflik, kenaikan harga komoditas global justru bisa menjadi penopang. Selain minyak, harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti batubara dan crude palm oil (CPO) ikut meningkat, didorong kebutuhan energi alternatif dari berbagai negara.
Baca Juga: Harga Minyak Naik pada Selasa (31/3) Pagi, Dipicu Memanasnya Perang Timur Tengah
Kondisi ini berpotensi menjaga kinerja ekspor, apalagi jika depresiasi rupiah terjadi secara terkontrol sehingga meningkatkan daya saing harga.
Meski demikian, David mengingatkan risiko tetap besar jika konflik berkepanjangan. Tekanan inflasi berpotensi meningkat dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi riil, meski secara nominal masih bisa terdongkrak.
Sementara itu, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, melihat tekanan terhadap transaksi berjalan akan meningkat pada kuartal II 2026.
Faktor musiman seperti pembayaran imbal hasil kepada investor asing, kebutuhan devisa untuk ibadah haji, serta kenaikan harga minyak diperkirakan memperbesar beban eksternal.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Awal Pekan Ini, Imbas Kekhawatiran Meluasnya Konflik Timur Tengah
Di saat yang sama, surplus neraca perdagangan mulai menyusut dan sentimen global yang cenderung risk off membuat aliran modal portofolio ke pasar domestik belum stabil. Kondisi ini dinilai akan menekan neraca pembayaran dan cadangan devisa.
“Rupiah pada kuartal II 2026 akan cenderung masih berada dalam tekanan dan kemungkinan tetap di kisaran Rp17.000 per dolar AS,” kata Faisal.
Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan pada periode tersebut bisa mencapai 1,00% hingga 1,31% dari PDB.
Pandangan serupa disampaikan Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Banjaran Surya Indrastomo.
Ia memproyeksikan CAD kuartal II 2026 melebar ke sekitar 0,8% dari PDB, terutama dipicu repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri yang bersifat musiman.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah Brent yang mendekati US$ 100 per barel berpotensi meningkatkan tagihan impor energi Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Baca Juga: Harga Minyak Naik pada Rabu (1/4) Pagi, Pasar Menimbang Prospek Penyelesaian Perang
Meski neraca non-migas masih surplus, ruang penyangganya diperkirakan semakin terbatas sehingga belum cukup menutup defisit transaksi berjalan.
Di sisi lain, transaksi modal dan finansial masih ditopang penanaman modal asing (PMA) yang menunjukkan pemulihan, tumbuh 4,26% secara tahunan pada kuartal IV 2025. Namun, aliran investasi portofolio tetap tertekan seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan dan berisiko mencatat defisit tipis. Meski begitu, cadangan devisa sebesar US$ 151,9 miliar per Februari 2026 masih dinilai cukup kuat sebagai bantalan eksternal.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak global dan perlambatan ekonomi dunia dapat mendorong defisit transaksi berjalan mendekati batas atas kisaran 0,1% hingga 0,9% dari PDB.
Ia menegaskan penguatan sinergi kebijakan akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas neraca pembayaran dan kepercayaan investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













