Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SEMARANG. Perum Bulog mengakui harga gabah kering panen (GKP) mulai mengalami kenaikan hingga Rp 7.000-Rp 7.500/kg, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp 6.500/kg.
Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, Kurnia Pradipta mengatakan kenaikan harga terjadi karena minimnya aktivitas panen di beberapa daerah.
"Oh, kondisi saat ini ada informasi di lapangan, karena memang masih ada yang menanam dan ada juga yang panen, meskipun sedikit. Ini informasi di lapangan sekitar Rp 7.000 sampai Rp 7.500-an, seperti itu, terkait GKP," kata Kurnia pada awak media, di Semarang, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla, Ini Daftar Perusahaannya!
Menurut Kurnia, perbedaan harga antara pembelian Bulog dan harga yang berkembang di pasar menjadi salah satu dinamika yang dihadapi dalam penyerapan gabah petani. Pasalnya, petani memiliki pilihan untuk menjual hasil panennya kepada pembeli lain, termasuk tengkulak, apabila memperoleh penawaran harga yang lebih tinggi
Meski demikian, Bulog berupaya menjaga penyerapan melalui kemudahan transaksi dan pembayaran kepada petani. Bulog menyediakan opsi pembayaran secara tunai di lokasi maupun melalui transfer, menyesuaikan dengan kebutuhan petani dan proses administrasi transaksi.
Kurnia mengatakan, sebagian petani yang telah menjalin koordinasi dengan Bulog sejak pelaksanaan program serapan gabah pada 2024 cenderung sudah memahami mekanisme pembelian yang ditawarkan. Koordinasi tersebut dilakukan bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL), bintara pembina desa (Babinsa), serta gabungan kelompok tani (Gapoktan).
"Kalau misalnya ada persaingan, memang ada. Tapi biasanya yang sudah loyal, karena ini untuk serapan gabah sudah dari 2024, kita sudah turun langsung dan saling berkoordinasi. Kalau bahasanya, kita bisa langsung bayar tunai, setelah itu pembayaran juga dipermudah kalau melalui transfer," jelas Kurnia.
Untuk menjaga kelancaran penyerapan, Bulog mengandalkan Tim Jemput Pangan yang berkoordinasi dengan PPL, Babinsa, dan Gapoktan untuk memperoleh informasi mengenai lokasi panen. Informasi tersebut mencakup luasan lahan yang dipanen serta perkiraan volume gabah yang akan dijual petani.
Setelah menerima informasi, tim Bulog akan menyesuaikan armada angkutan dengan perkiraan volume gabah yang tersedia. Langkah ini dilakukan agar kapasitas kendaraan sesuai dengan jumlah gabah yang akan diangkut dari lokasi panen.
Baca Juga: SwissCham Indonesia Dukung Penguatan Hubungan Ekonomi 75 Tahun Indonesia–Swiss
Di lapangan, tim juga melakukan pemeriksaan kualitas gabah sebelum transaksi dilanjutkan. Gabah yang telah ditimbang kemudian dibawa ke fasilitas pengolahan untuk menjalani proses pengeringan dan penggilingan sebelum disimpan sebagai bagian dari stok beras Bulog.
Kurnia menjelaskan, pembayaran kepada petani dapat dilakukan secara tunai saat transaksi berlangsung. Sementara itu, pembayaran melalui transfer umumnya dilakukan pada hari berikutnya atau H+1, bergantung pada waktu panen dan penyelesaian administrasi transaksi.
"Kalau misalnya mereka mau tunai, kita membawa uang untuk kita transaksikan di lapangan. Tapi kalau mereka tidak perlu tunai, kita bisa transfer juga. Biasanya H+1 dari panen, tetapi kalau panennya pagi dan administrasinya sudah selesai di kantor, bisa juga langsung hari itu," kata Kurnia.
Selain harga, kualitas gabah juga menjadi perhatian Bulog dalam melanjutkan penyerapan. Kurnia mengatakan, kebijakan any quality memberikan ruang bagi Bulog untuk menyerap gabah dengan kondisi kualitas yang beragam. Namun, gabah tetap harus memenuhi persyaratan agar dapat diproses lebih lanjut di fasilitas pengeringan dan penggilingan.
Ia mencontohkan, gabah dengan kadar air yang terlalu tinggi berpotensi menyulitkan proses pengeringan. Kondisi tersebut dapat mengganggu pengolahan, terutama apabila gabah terlalu basah dan saling menempel ketika masuk ke mesin pengering.
"Kalau any quality itu kita juga bisa memperkirakan di lapangan. Selama ini, alhamdulillah, kualitas yang masuk masih dalam taraf yang bisa diolah oleh penggilingan, termasuk terkait kadar airnya," ungkap Kurnia.
Baca Juga: Bareskrim Polri Tetapkan 245 Orang dan 20 Korporasi Tersangka Karhutla
Sebelumnya, Perum Bulog mencatat rekor pengadaan beras tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan realisasi mencapai 4,11 juta ton setara beras hingga 8 Oktober 2026. Angka tersebut setara dengan 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton untuk tahun ini.
Berdasarkan data perusahaan, realisasi pengadaan beras Bulog mencapai 4.115.014 ton setara beras. Capaian itu sekaligus menandai keberhasilan Bulog melampaui target pemerintah sebelum 2026 berakhir.
Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani mengapresiasi seluruh insan Bulog dan pihak-pihak yang berkontribusi terhadap pencapaian tersebut.
Menurutnya, capaian lebih dari 4 juta ton setara beras yang memecahkan rekor capaian tertinggi sepanjang Bulog berdiri ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada kerja keras, dedikasi, dan semangat seluruh insan Bulog di berbagai penjuru Indonesia yang terus bergerak, turun langsung ke lapangan, mendampingi petani, serta memastikan hasil panen dapat terserap dengan baik.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan bersejarah ini. Capaian ini harus menjadi energi bagi BULOG untuk terus memberikan manfaat bagi petani, menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














