Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi memotong pasokan gas ke Singapura sebesar 31 juta kaki kubik per hari atau Million Standard Cubic Feet per Day (MMBTU/BBTU) yang difokuskan dari Natuna sebesar 15 BBTU dan Sumatera sebesar 16 BBTU.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menilai, kebijakan pembatasan ekspor tersebut perlu difokuskan untuk menguatkan ketahanan energi serta menjamin ketersediaan pasokan bagi industri domestik.
Erwin menuturkan, sektor industri pengolahan seperti pupuk, petrokimia, keramik, kaca, dan baja selama ini sangat bergantung pada kepastian pasokan gas dengan harga terjangkau.
"Jangan sampai ekspor dikurangi, tetapi industri dalam negeri tetap mengalami kekurangan gas karena keterbatasan jaringan pipa, fasilitas pengolahan, maupun infrastruktur distribusi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (25/10/2026).
Baca Juga: Gas ke Singapura Dipangkas, SKK Migas Ungkap untuk Perkuat Listrik Batam-Sumatra
Terkait spekulasi bahwa pemotongan pasokan gas dipicu oleh kritik Singapura mengenai isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Erwin meminta semua pihak tidak langsung mengaitkannya tanpa ada penjelasan resmi.
Ia menilai, hubungan bisnis dan energi bilateral sebaiknya tetap ditempatkan dalam tata kelola sumber daya energi serta pemenuhan ketentuan kontrak komersial yang berlaku.
"Karena itu, kami melihat persoalan ini sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya energi nasional, bukan langsung ditafsirkan sebagai respons politik terhadap kritik Singapura mengenai karhutla," jelasnya.
Baca Juga: Kadin Beri Catatan Rencana Penyaluran Batubara dan Gas ke Pembangkit via BLU
Dari sisi peluang, lanjut Erwin, pengurangan ekspor dapat memperbesar pasokan gas dalam negeri untuk mendorong utilisasi pabrik dan daya saing manufaktur.
Namun, Ia mengingatkan, potensi penurunan devisa apabila tambahan volume gas tersebut tidak terserap secara optimal oleh pasar domestik akibat kendala geografis dan jaringan pipa.
"Yang paling penting bukan sekadar berapa besar ekspor gas yang dikurangi, tetapi seberapa besar tambahan pasokan tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, investasi, ekspor produk manufaktur, dan penciptaan lapangan kerja," pungkasnya.
Baca Juga: Gas ke Singapura Dipangkas, Aspermigas: Harus Jelas Ini Porsi Pemerintah atau KKKS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














