kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Fitch Ratings Prediksi Ekonomi Indonesia Melambat pada Semester II-2026


Minggu, 25 Oktober 2026 / 13:34 WIB
Fitch Ratings Prediksi Ekonomi Indonesia Melambat pada Semester II-2026
ILUSTRASI. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada periode April–Ju (AI/ChatGPT/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID-JAKARTA Fitch Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat pada semester II-2026 setelah mencatat kinerja relatif kuat pada paruh pertama tahun ini. 

Perlambatan belanja pemerintah dan tingginya harga energi global menjadi sejumlah faktor yang membayangi prospek ekonomi nasional.

Dalam laporan bertajuk Indonesia’s Policy Uncertainty, External Headwinds Cloud Growth Outlook yang dirilis pada 21 Oktober 2026, Fitch memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% sepanjang 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target awal pemerintah sebesar 5,4%.

Fitch mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada semester I-2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,1% sepanjang 2025.

Meski demikian, Fitch memperkirakan momentum pertumbuhan akan melemah pada paruh kedua tahun ini. Dalam proyeksinya, pertumbuhan ekonomi secara tahunan diperkirakan turun di bawah 5% pada semester II-2026.

Baca Juga: Fitch Khawatirkan Tingginya Beban Utang Indonesia Dibanding Negara Selevel

"Kami memperkirakan pertumbuhan akan melambat pada paruh kedua tahun 2026," dikutip dari laporan tersebut, Minggu (25/10).

Fitch menjelaskan, proyeksi tersebut turut mempertimbangkan dampak kenaikan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi membebani aktivitas ekonomi Indonesia.

Lembaga pemeringkat tersebut sebelumnya melihat peluang untuk menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi setelah mencermati realisasi produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I dan II 2026. Namun, lonjakan harga minyak mengubah prospek tersebut.

Salah satu faktor yang diperkirakan menahan pertumbuhan ekonomi adalah berkurangnya dorongan belanja pemerintah setelah pengeluaran dipercepat pada semester I-2026.

Fitch mencatat belanja pemerintah meningkat hampir 19% pada semester I-2026 dan memberikan kontribusi sekitar 1,2 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Baca Juga: Menkeu Suahasil Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh Kisaran 5,5%-5,6% Semester II

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kontribusi belanja pemerintah pada periode 2021–2025 yang sebesar 0,2 poin persentase.

Peningkatan belanja tersebut antara lain didorong oleh pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), subsidi energi yang lebih tinggi, serta belanja modal.

Fitch memperkirakan dukungan fiskal terhadap perekonomian akan berkurang setelah percepatan belanja pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi dorongan terhadap aktivitas ekonomi pada semester II-2026.

Selain itu, Fitch memperkirakan konsumsi rumah tangga akan melambat hingga akhir tahun seiring melemahnya kepercayaan konsumen dibandingkan awal 2026.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masuk Tujuh Besar Dunia, Benarkah Daya Beli Rakyat Kuat?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×