kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Ekspor Mandek, PHK Bergulir


Sabtu, 29 November 2008 / 13:20 WIB


Reporter:

JAKARTA. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sedang bergulir. Pemerintah menilai kondisi itu terjadi akibat ekspor yang mandek.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan gelombang PHK di perusahaan yang berorientasi ekspor terjadi lantaran negara-negara yang menjadi target penjualan produk Indonesia sedang membatasi ekspor.

Akibat pembatasan ekspor itu berimbas pada menurunnya ekspor Indonesia. "Masalahnya karena ekspor turun akibat daya beli dari luar yang menurun, sehingga produksi menurun dan akibatnya adalah PHK," jelas Kalla di kantornya, Jumat (28/11).

Jadi, lanjut Kalla, PHK yang terjadi saat ini bukan lantaran masalah struktur perusahaan maupun akibat perusahaan kekurangan modal. Namun, pemerintah menilai PHK itu tidak jauh lebih rendah dibanding negara-negara industri lain seperti China dan India. "Jadi memang ada PHK tapi tidak sebesar apa yang terjadi di negara industri seperti China dan India," kata Kalla.

Seperti diberitakan sebelumnya, ancaman gelombang PHK akibat krisis finansial global mulai nyata dirasakan sektor manufaktur. Sampai Kamis (20/11), pemerintah menerima permintaan sejumlah perusahaan yang berniat melakukan PHK terhadap 12.600 pekerja dan merumahkan sedikitnya 1.200 orang.

Sebagian besar dari perusahaan yang mengajukan PHK tersebut adalah sektor industri padat karya yang berlokasi di Jawa Barat, Kalimantan Barat, Riau, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Salah satu perusahaan yang sudah mengumumkan PHK adalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) atas 1.000 karyawan dan 1.000 karyawan lainnya dirumahkan.
PHK terjadi karena perusahaan bubur kayu dan kertas itu mengalami kekurangan pasokan bahan baku, selain juga terkena imbas krisis keuangan global.

Selain sejumlah tenaga kerja Indonesia, sekitar 35 pekerja asing juga terkena kebijakan tersebut. Hingga akhir pekan lalu RAPP mempekerjakan sekitar 4.000 karyawan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×