kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Ekonom: Tak ada alasan S&P tak naikkan rating


Selasa, 24 Mei 2016 / 16:31 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan risiko fiskal Indonesia saat ini bukan menjadi kekhawatiran bagi lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's (S&P) untuk meningkatkan peringkat investasi Indonesia.

Menurut David, risiko fiskal saat ini berkurang karena dicabutnya subsidi bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain lanjutnya, saat ini pemerintah berupaya melakukan perbaikan reformasi struktural dengan mengeluarkan paket kebijakan.

"Jadi tidak ada alasan untuk S&P menunda (kenaikan peringkat Indonesia)," kata dia, Selasa (24/5).

S&P saat ini masih menyematkan rating BB+ dengan outlook positif atas utang Indonesia. Peringkat ini disematkan pada Mei 2015 lalu.

Meski demikian menurutnya, pemerintah masih punya pekerjaan rumah, yaitu segera menerbitkan aturan pelaksanaan paket-paket kebijakan yang selama ini telah dikeluarkan. Hal itu untuk memberikan kepastian dari hukum dari kebijakan tersebut. Apalagi S&P juga fokus pada persoalan institusional.

Lebih lanjut menurutnya, aturan turunan kebijakan-kebijakan tersebut juga harus segera diterbitkan agar tidak kehilangan momentum perbaikan ekonomi yang dimulai sejak kuartal keempat tahun lalu.

"Kalau paket kebijakan semuanya keluar, S&P menaikkan peringkat kita, revisi APBN lancar, dan ada Tax Amnesty, itu jadi momentum yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×