kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Ekonom: Pemerintah jangan terlena


Minggu, 19 Maret 2017 / 18:17 WIB
Ekonom: Pemerintah jangan terlena


Reporter: Ramadhani Prihatini | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Perekomian Indonesia di kuartal I dinilai mengalami stagnasi. Hal itu bisa terlihat dari beberapa indikator seperti melambatnya ekspor-impor, penjualan eceran yang cukup lambat, serta pelbagai sektor riil yang cukup stagnan.

Muhamad Chatib Basri, ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan tahun 2013-2014 menyatakan, pada kuartal I tahun ini memang menjadi masa yang cukup berat. Meski demikian, dia menilai perekonomian Indonesia memiliki potensi kenaikan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik pada kuartal II dan kuartal III akibat naiknya harga komoditas di awal tahun 2017.

"Saya lihat ekonomi Indonesia di kuartal II dan kuartal III akan lebih baik ketimbang kuartal I. Growth-nya akan lebih tinggi, karena kita tertolong dengan naiknya harga komoditas yang naik dengan cukup baik," kata Chatib pada KONTAN, Minggu (19/3).

Ia bilang dengan asumsi harga komoditas tetap baik di sepanjang tahun, maka ada kemungkinan pertumbuhan akan mulai terkerek dikuartal II hinga akhir tahun. Bila skenario itu berjalan lancar, maka Indonesia punya peluang pertumbuhan ekonomi hingga 5,5% sepanjang tahun 2017.

"Ini faktor keberuntungan saja karena tahun ini komoditas naik," imbuh Chatib.

Meski demikian, dia mengingatkan pemerintah agar jangan terlena dengan terkereknya ekonomi karena komoditas seperti halnya tahun 2002-2012. Pemerintah harus tetap menumbuhkan industri manufaktur sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×