kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.001,83   0,09   0.01%
  • EMAS979.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Cerita Luhut Soal Pawang Hujan dan 4 Pesawat TNI Ikut Menyukseskan Gala Dinner G20


Jumat, 25 November 2022 / 04:30 WIB
Cerita Luhut Soal Pawang Hujan dan 4 Pesawat TNI Ikut Menyukseskan Gala Dinner G20


Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cerita sukses pelaksanaan gala dinner di perhelatan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 masih jadi perbincangan segar.

Pelaksanaan gala dinner di outdor pada saat cuaca ekstrem di hampir seluruh wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir membuat kita semua harus memperhatikan betul prediksi cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Seperti kekhawatiran panitia penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua Bali yang berlangsung pada medio November 2022 yang lalu. 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan keresahannya  dengan potensi cuaca ekstrem beberapa hari menjelang pelaksanaan KTT G20 di Nusa Dua Bali.

Baca Juga: Sukses Pimpin KTT G20, Indonesia Dijuluki Asia’s Overlooked Giant

Luhut menceritakan, saat dirinya mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau lokasi Gala Dinner Kepala Negara anggota dan tamu undangan KTT G20 di pelataran Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, hujan mendadak turun begitu lebat. 

Sembari berteduh dan mendengarkan paparan dari koordinator acara khusus event Gala Dinner G20, Wishnutama Kusubandio, Luhut melihat wajah Presiden Joko Widodo yang tampak termenung dan khawatir dengan kondisi cuaca yang tidak bisa diduga. 

"Tampaknya apa yang beliau pikirkan saat itu sama dengan yang saya pikirkan. Kami ingin acara Gala Dinner bisa berlangsung meriah dan semarak," tulis Luhut di akun instagram-nya Kamis (24/11) malam. 

Luhut khawatir bagaimana jika hujan deras seperti sore itu malah turun di area GWK Cultural Park tanggal 15 November malam ketika acara Gala Dinner yang dihadiri oleh para pemimpin negara dunia itu berlangsung.

Namun pikiran Luhut bukan tertuju kepada sosok pawang hujan fenomenal yang beraksi saat balapan motor di Mandalika tahun lalu, tapi tim khusus yang bertugas untuk  menjadi pawang hujan KTT G20.

Setelah mendampingi kunjungan Presiden, Luhut bergegas mengadakan rapat bersama tim khusus pawang hujan KTT G20 yang terdiri dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geogisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TNI AU, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan Tri Handoko Seto, Pakar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). 

Menurut Luhut tugas besar tim pawang hujan KTT G20 ini hanya satu; memastikan agar pada tanggal 15 November malam tidak ada hujan turun di GWK Cultural Park.

Baca Juga: Cerita Para Koki Perjamuan Nan Megah Gala Dinner KTT G20

Selain tugas tersebut, ada tugas lain pawang hujan KTT G20 yang tak kalah penting, yakni mengkondisikan cuaca agar tidak turun hujan ketika para kepala negara anggota G20 berjalan ke arah Bamboo Dome, yang terletak di outdoor area The Apurva Kempinski.

Bersyukur kerja keras tim TMC pawang hujan KTT G20 buah manis yakni cuaca cerah ketika Gala Dinner KTT G20 berlangsung. 

Atas kerja hebat seluruh tim TMC, pada Kamis (24/11) Luhut mengundang seluruh tim dan menyampaikan rasa terima kasih kepada tim pawang hujan KTT G20.

"Saya mendengar cerita perjalanan beliau melakukan perburuan awan di langit Bali. Beliau menyampaikan, ketika itu sebenarnya hujan sempat turun di wilayah Bali lainnya pada siang hari," kata Luhut. 

Menurut Luhut, sejak awal tim pawang hujan KTT G20 ini memang didesain untuk membuat skenario atau rekayasa cuaca. 

Kegiatan tim pawang hujan KTT G20 dilakukan agar tiap agenda KTT G20, khususnya yang berada di outdoor, tidak terkendala oleh hujan.

Baca Juga: Mereka-Mereka Di Balik Jamuan Megah Gala Dinner KTT G20

Dengan semua manfaat yang dihasilkan dari TMC alias tim pawang hujan KTT G20 ini, rasa penasaran Luhut muncul. 

"Saya bertanya kepada Dr Seto, Apakah TMC ini bisa kita manfaatkan secara berkesinambungan? Beliau jawab bisa, tapi syaratnya harus all out. Baik dari sisi anggaran, regulasi di mana pesawat yang digunakan tidak boleh terbang di malam hari, dan lain-lain," katanya.

Setelah itu Luhut mulai memikirkan mata anggaran di beberapa event pemerintah. Ia melihat TMC mendapat porsi anggaran pawang hujan yang paling kecil, padahal ini sangat penting. 

Seperti contohnya pada saat pelaksanaan Gala Dinner KTT G20 tersebut, tim pawang hujan KTT G20 harus mengerahkan 4 pesawat dari TNI AU.

Tim pawang hujan KTT G20 ditugaskan dengan berbekal suplai data dari BMKG mengenai titik mana saja yang berpotensi hujan. 

"Butuh kecermatan serta perhitungan yang matang untuk mengetahui ketebalan awan dan berapa jumlah garam yang harus ditabur. Ini semua diperlukan agar hujan yang terjadi tidak menyebar," katanya.

Selain itu yang perlu diketahui, dalam kinerja tim pawang hujan KTT G20  ada 11 penerbangan yang membawa 29 ton garam untuk melakukan Teknik Modifikasi Cuaca pada saat itu. 

Dengan aktivitas itu, dibayangkan berapa besar anggaran yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan operasi ini.

Baca Juga: Simulasi Pengamanan KTT G20, Ruas Jalan Di Bali Ini Diterapkan Rekayasa Lalu Lintas

Luhut mengakui bahwa tidak sia-sia dirinya bertemu dengan tim untuk banyak belajar cabang sains dan teknologi baru, yaitu Teknik Modifikasi Cuaca. 

Ia menyadari tim pawang hujan atau TMC ini sangat saintifik dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal lain, misalnya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan menurunkan hujan buatan untuk mengairi waduk sebelum musim kemarau tiba, agar mengantisipasi kekeringan, sampai untuk irigasi pertanian.

Akhirnya Luhut menarik satu kesimpulan bahwa sains dan teknologi sebesar ini perlu memiliki lembaga khusus yang menaungi Teknik Modifikasi Cuaca. 

"Saya dengar dari pemaparan Dr Seto, negara lain seperti Thailand punya lembaga khusus TMC dengan pertanggungjawaban kepada Raja. Dan pembuktian manfaat dari Teknik Modifikasi Cuaca juga terwujud pada Gala Dinner KTT G20 2022 di Bali, 15 November 2022 lalu, di mana acara berjalan sukses tanpa setetes pun air hujan jatuh di lokasi penyelenggaraan," katanya.

Jadi apakah akan ada lembaga pawang hujan di Indonesia?

Selanjutnya: Ada Ancaman Resesi, KLBF Waspadai Fluktuasi Rupiah, Inflasi dan Daya Beli di 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×