Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia kembali mencatat kenaikan pada Juni 2026. Namun, kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata.
Hampir seluruh komponen penyusun cadangan devisa justru mengalami penurunan. Kenaikan hanya ditopang oleh lonjakan aset valuta asing (valas), yang sekaligus memperkuat likuiditas cadangan devisa nasional.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi official reserve assets meningkat menjadi US$ 145,59 miliar pada Juni 2026 dari US$ 144,89 miliar pada Mei.
Kenaikan ini sepenuhnya berasal dari aset valuta asing yang naik menjadi US$ 125 miliar, dibandingkan US$ 122,87 miliar pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Arus Dana Asing Masih Menekan Saham Big Banks pada Awal Pekan, Simak Rekomendasinya
Di sisi lain, hampir seluruh komponen cadangan devisa lainnya mengalami penurunan. Posisi cadangan di Dana Moneter Internasional (IMF) turun menjadi US$ 1,075 miliar. Nilai Special Drawing Rights (SDR) juga menyusut menjadi US$ 7,514 miliar.
Penurunan paling tajam terjadi pada emas moneter yang merosot menjadi US$ 11,285 miliar dari sebelumnya US$ 12,659 miliar. Sementara itu, aset cadangan lainnya turun tipis menjadi US$ 710 juta.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan cadangan devisa pada Juni terutama berasal dari masuknya devisa ke instrumen yang paling likuid, yakni aset valuta asing.
Menurut Josua, tambahan cadangan devisa didorong oleh penerimaan pemerintah, derasnya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta hasil penerbitan obligasi global Danantara.
Ia mencatat arus masuk dana asing ke SBN mencapai sekitar US$ 1,26 miliar, sedangkan investasi ke SRBI mencapai US$ 3,74 miliar.
Baca Juga: Nasib IHSG dan Arus Dana Asing Pasca Peringatan Lembaga Pemeringkat Global
"Meski demikian, kenaikan cadangan devisa tetap terbatas karena masih ada pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan intervensi BI di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Josua.
Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai penurunan nilai emas moneter, SDR, maupun posisi cadangan di IMF lebih dipengaruhi faktor valuasi dibandingkan pelemahan fundamental cadangan devisa.
Menurut David, koreksi harga emas dunia sepanjang Juni menjadi penyebab utama turunnya nilai emas moneter. Sementara itu, penurunan SDR terjadi seiring penguatan dolar AS terhadap mata uang penyusunnya.
Meski komposisi cadangan devisa berubah, David dan Josua menilai meningkatnya porsi aset valuta asing justru memperkuat kualitas likuiditas cadangan devisa.
Sebagai aset yang paling mudah dicairkan, cadangan valas memberikan ruang lebih besar bagi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memenuhi kebutuhan pembayaran luar negeri, serta meredam gejolak di pasar keuangan.
Baca Juga: Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
Namun, Josua mengingatkan bahwa dalam jangka menengah struktur cadangan devisa perlu semakin sehat dan tidak bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek.
Menurutnya, penguatan cadangan devisa idealnya lebih banyak ditopang oleh surplus perdagangan, devisa hasil ekspor, investasi langsung, serta penerimaan dari sektor jasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bank Indonesia
- dana asing
- obligasi global
- Emas Moneter
- Sekuritas Rupiah Bank Indonesia
- Surat Berharga Negara
- Cadangan Devisa Indonesia
- Dana Moneter Internasional
- Stabilitas Rupiah
- Ekonom Permata Bank
- Intervensi Valas
- likuiditas negara
- aset valuta asing
- special drawing rights
- ekonom bank central asia














