kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.102   -87,00   -0,48%
  • IDX 5.029   109,24   2,22%
  • KOMPAS100 648   16,49   2,61%
  • LQ45 514   13,00   2,59%
  • ISSI 166   2,84   1,74%
  • IDX30 289   6,62   2,34%
  • IDXHIDIV20 389   6,46   1,69%
  • IDX80 75   1,89   2,59%
  • IDXV30 108   1,52   1,43%
  • IDXQ30 97   2,16   2,28%

BPS: Generasi Muda Kini Lebih Suka Bekerja Informal


Kamis, 05 November 2026 / 13:50 WIB
Diperbarui Kamis, 05 November 2026 / 13:53 WIB
BPS: Generasi Muda Kini Lebih Suka Bekerja Informal
ILUSTRASI. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pekerja informal masih mendominasi struktur pasar kerja Indonesia. ? (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pekerja informal masih mendominasi struktur pasar kerja Indonesia. 

Hingga Agustus 2026, proporsi pekerja informal mencapai 57,93% dari total 147,99 juta penduduk bekerja.

Sementara itu, pekerja formal hanya mencakup 42,07% atau sekitar 62,25 juta orang. Adapun jumlah pekerja informal mencapai 85,73 juta orang.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan tingginya proporsi pekerja informal menjadi sinyal bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor formal masih perlu ditingkatkan.

Baca Juga: Pengangguran Turun! BPS Hitung Peserta Magang Hub sebagai Pekerja

"Secara statistik memang proporsi pekerja informal masih lebih tinggi. Kita lihat tadi di data saat ini proporsinya mencapai 57,93%. Ini yang informal, berarti formalnya sekitar 42% sekian," ujar Edy dalam konferensi pers, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, penciptaan lapangan kerja di sektor formal perlu mendapat perhatian khusus agar dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Meski demikian, Edy menilai tingginya pekerja informal tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya penyerapan tenaga kerja formal. 

Perubahan preferensi masyarakat, khususnya generasi saat ini, juga turut mempengaruhi pilihan pekerjaan.

Dia menyebut sebagian masyarakat saat ini cenderung lebih memilih bekerja di sektor informal dibandingkan generasi sebelumnya.

"Tapi memang juga ada budaya masyarakat sekarang juga banyak lebih memilih pekerja informal, karena generasi sekarang agaknya berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya," kata Edy.

Baca Juga: Seluruh Sektor Usaha Tumbuh Positif Kuartal III-2026, Akomodasi Naik Paling Tinggi

Berdasarkan data BPS, proporsi pekerja informal pada Agustus 2026 sedikit meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 57,80%. 

Secara jumlah, pekerja informal bertambah dari 84,70 juta orang menjadi 85,73 juta orang.

Di sisi lain, proporsi pekerja formal turun dari 42,20% pada Agustus 2025 menjadi 42,07% pada Agustus 2026. Namun, secara jumlah pekerja formal tetap meningkat dari 61,84 juta orang menjadi 62,25 juta orang.

Peningkatan jumlah pekerja formal tersebut terutama didorong oleh bertambahnya kelompok buruh, karyawan, atau pegawai. Kelompok ini mencakup 38,61% dari total penduduk bekerja atau bertambah sekitar 359.000 orang dibandingkan Agustus 2025.

Sementara itu, penambahan terbesar berdasarkan status pekerjaan terjadi pada kelompok penduduk yang berusaha sendiri, dengan kenaikan sekitar 535.000 orang dalam setahun.

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,47% Kuartal III-2026, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga & Investasi

Adapun berdasarkan status pekerjaan, pekerja yang berusaha sendiri mencakup 21,55% dari total penduduk bekerja. 

Kemudian, pekerja yang berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga tidak dibayar mencapai 13,82%.

Selanjutnya, pekerja keluarga atau tidak dibayar memiliki proporsi 12,91%. Sementara itu, pekerja bebas di nonpertanian mencapai 5,17% dan pekerja bebas di pertanian sebesar 4,48%.

Adapun kelompok berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar memiliki proporsi sebesar 3,46% dari total penduduk bekerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×