kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.140   53,00   0,29%
  • IDX 5.947   22,48   0,38%
  • KOMPAS100 772   0,90   0,12%
  • LQ45 590   0,28   0,05%
  • ISSI 205   1,54   0,75%
  • IDX30 333   -0,12   -0,04%
  • IDXHIDIV20 413   -0,69   -0,17%
  • IDX80 88   0,16   0,18%
  • IDXV30 112   0,08   0,07%
  • IDXQ30 107   -0,28   -0,26%

Bos BI Sebut China Bisa Jadi Penyelamat Resesi Global, Tapi Ada Syaratnya


Kamis, 26 Januari 2023 / 10:56 WIB
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan kepada wartawan terkait hasil RDG di Jakarta, Kamis (19/1/2023). KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menganggap, pembukaan kuncitara di China berpeluang mengkerdilkan risiko resesi global 2023. Terlebih, dengan porsi pertumbuhan ekonomi China ke ekonomi global sekitar 15%. Sehingga perbaikan ekonominya cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan syarat, China harus tumbuh minimal 5% pada tahun ini. 

"Kami pikir, China bisa mengkompensasi perlambatan maupun risiko resesi Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris, bila tumbuh 5% hingga 5,2% YoY," tutur Perry dalam pembukaan BI Annual Investment Forum 2023, Kamis (26/1). 

Perry mengatakan, hingga saat ini probabilitas resesi AS sekitar 61%, pun dengan Uni Eropa. Bahkan, Inggris berpotensi mengalami pertumbuhan negatif pada tahun ini. 

Baca Juga: Soal Judicial Review Perppu Cipta Kerja, Begini Respon Pemerintah

"Dengan demikian, bila China berhasil mencapai pertumbuhan di level tersebut, ini cukup bisa mengkompensasi perlambatan ekonomi AS, Eropa, Inggris, ke pertumbuhan dunia," tambah Perry. 

Namun, Perry meminta agar dunia tak melihat angka pertumbuhan China saja. Pembukaan ekonomi China akan membawa dampak rambatan terhadap negara lain, khususnya negara mitra dagang.

Perry yakin, China akan memberi dampak positif pada ekonomi Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, juga India, sehingga secara kolektif akan memberi dampak positif pada ekonomi global. 

Lebih lanjut, Perry saat ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi China sebesar 3,6% YoY. Namun, bila pembukaan kembali China berjalan dengan mulus, maka China mungkin tumbuh di kisaran 5%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×