Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bonus demografi tidak otomatis menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Besarnya populasi usia produktif justru bisa menjadi tekanan ekonomi dan sosial jika tidak diikuti penciptaan lapangan kerja produktif dengan pendapatan yang layak.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengatakan, bonus demografi baru akan menjadi peluang jika tenaga kerja usia produktif terserap ke pekerjaan produktif, baik dari kelompok berpendapatan rendah maupun kelas menengah.
"Bonus demografi ada, tetapi bisa memberikan dampak positif," ujar Mari dalam Kontan Economic and Demographic Forum 2026 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Bonus Demografi Jadi Tantangan Ekonomi
Menurut Mari, penciptaan lapangan kerja produktif harus menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi.
Revitalisasi industri padat karya perlu didorong melalui pemanfaatan teknologi dan penerapan prinsip berkelanjutan atau smart and green.
Pengembangan industri hilir, termasuk baterai, juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Namun, Indonesia tetap perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, peningkatan keterampilan dan penguasaan teknologi.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI) karena ditopang jumlah penduduk yang besar, ketersediaan energi, luas wilayah dan posisi geopolitik yang relatif netral.
Peluang tersebut tetap bergantung pada kesiapan tenaga kerja dan kemampuan Indonesia meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sektor jasa jadi tumpuan
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai sektor jasa menjadi tumpuan paling realistis untuk menyerap tenaga kerja muda dalam lima tahun ke depan.
Menurut David, manufaktur dan pertanian idealnya menjadi sektor utama penyerap tenaga kerja.
Namun, dalam kondisi saat ini, ritel, perdagangan, transportasi dan pariwisata memiliki peluang lebih besar untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Baca Juga: Bonus Demografi Bisa Jadi Ancaman, Pemerintah Harus Agresif Buka Lapangan Kerja
"Idealnya manufaktur dan pertanian, tapi yang realistis sektor jasa seperti ritel, perdagangan, transportasi dan pariwisata," kata David kepada KONTAN.
Revitalisasi manufaktur masih menghadapi sejumlah hambatan, mulai dari kepastian hukum, birokrasi dan perizinan hingga ketersediaan tenaga kerja terampil dan infrastruktur.
Sementara untuk pengembangan AI, Indonesia masih menghadapi tantangan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan di dalam negeri juga dinilai masih banyak berfokus pada teknologi lama sehingga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan industri berbasis teknologi baru.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai Indonesia tidak bisa mengandalkan industri baterai, digital dan AI sebagai satu-satunya sumber penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda.
Industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, makanan dan minuman serta elektronik masih menjadi sektor yang paling realistis untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Karena itu, strategi ekonomi perlu berjalan dengan dua kaki. Industri padat karya menjadi mesin penciptaan lapangan kerja, sementara sektor teknologi berperan meningkatkan produktivitas dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Baca Juga: Lembaga Demografi FEB UI: Bonus Demografi Baru Jadi Modal, Bukan Bonus Ekonomi
"Jangan sampai kita terlalu cepat mengejar industri berteknologi tinggi tetapi lupa bahwa jutaan anak muda membutuhkan pekerjaan hari ini," kata Ronny.
Menurut Ronny, revitalisasi industri juga tidak cukup hanya melalui insentif pembelian mesin. Pemerintah perlu membenahi biaya logistik, pasokan energi, perizinan, pembiayaan, kawasan industri dan keterampilan tenaga kerja.
Insentif fiskal seperti tax holiday juga perlu diarahkan untuk mendorong investasi yang mampu memperkuat kapasitas produksi sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














