kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.988   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.122   -26,16   -0,43%
  • KOMPAS100 793   -5,23   -0,65%
  • LQ45 608   -3,65   -0,60%
  • ISSI 212   -0,09   -0,04%
  • IDX30 337   -1,94   -0,57%
  • IDXHIDIV20 427   -0,46   -0,11%
  • IDX80 91   -0,65   -0,71%
  • IDXV30 115   -0,40   -0,35%
  • IDXQ30 110   -0,10   -0,09%

Bonus Demografi Bisa Jadi Beban, Ini Sektor yang Bisa Serap Tenaga Kerja


Selasa, 29 September 2026 / 19:33 WIB
Bonus Demografi Bisa Jadi Beban, Ini Sektor yang Bisa Serap Tenaga Kerja
ILUSTRASI. Keresahan Kelas Menengah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai sektor jasa menjadi tumpuan paling realistis untuk menyerap tenaga kerja muda Indonesia dalam lima tahun ke depan, di tengah tantangan bonus demografi.

David mengatakan, sektor manufaktur dan pertanian idealnya menjadi sektor utama dalam penciptaan lapangan kerja produktif. Namun, dengan mempertimbangkan kondisi dan struktur ekonomi saat ini, sektor jasa seperti ritel, perdagangan, transportasi, dan pariwisata dinilai lebih realistis menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Idealnya manufaktur dan pertanian, tapi yang realistis sektor jasa seperti ritel, perdagangan, transportasi dan pariwisata,” kata David kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: DPR Soroti Klaim RS, Suntikan Rp20 Triliun ke BPJS Diminta Benahi Akar Masalah

Menurutnya, pengembangan sektor-sektor tersebut penting untuk memastikan bonus demografi tidak berubah menjadi beban apabila pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif tidak diimbangi dengan ketersediaan pekerjaan.

Di sisi lain, David menilai upaya revitalisasi industri melalui konsep smart and green masih menghadapi persoalan klasik yang perlu segera dibenahi pemerintah.

Beberapa di antaranya adalah kepastian hukum, penyederhanaan birokrasi dan perizinan, ketersediaan tenaga kerja terampil, serta pembangunan infrastruktur.

“Masih soal klasik terkait kepastian hukum, birokrasi perizinan, ketersediaan tenaga kerja terampil dan infrastruktur,” ujarnya.

Menurut David, perbaikan sejumlah aspek tersebut menjadi penting agar industri Indonesia, khususnya sektor padat karya, dapat meningkatkan daya saing sekaligus menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja baru.

Sementara itu, terkait peluang Indonesia menjadi hub kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), David menilai Indonesia masih menghadapi persoalan dari sisi sumber daya manusia.

Ia mengatakan, sumber daya dan kualitas manusia di Indonesia saat ini belum diarahkan secara optimal untuk menangkap peluang ekonomi berbasis AI. Kondisi tersebut juga tercermin dari program studi di dalam negeri yang dinilai masih banyak berfokus pada teknologi lama (old tech).

“Sumber daya dan kualitas manusia belum diarahkan ke sana dan prodi di dalam negeri masih terpaku pada old tech sehingga Indonesia berisiko hanya menjadi pasar saja,” jelas David.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia perlu mempercepat penyesuaian pendidikan dan keterampilan tenaga kerja agar perkembangan AI tidak hanya meningkatkan konsumsi teknologi, tetapi juga mendorong penciptaan nilai tambah dan lapangan kerja domestik.

Baca Juga: Banyak UMKM Lahir untuk Bertahan Hidup, Pendampingan Jadi Kunci Naik Kelas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×