Reporter: Genta Disa | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia lahir bukan dari perencanaan bisnis yang matang, melainkan dari kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.
Kondisi ini membuat tantangan UMKM bukan hanya bagaimana menciptakan usaha, tetapi juga bagaimana mendorong usaha tersebut tumbuh dan naik kelas.
Kepala Lembaga Demografi FEB UI I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, keterbatasan penyerapan tenaga kerja formal membuat membuka usaha mandiri menjadi pilihan yang realistis bagi sebagian masyarakat.
“Mereka harus bekerja, salah satu yang paling feasible buat mereka ya membuka usaha sendiri,” ujar Dewa kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Pelatihan UMKM Bangkit, Ini Cara UMKM Naik Kelas di Era Digital
Menurut dia, kebutuhan ekonomi harian umumnya menjadi faktor utama yang mendorong seseorang memulai usaha mikro. Artinya, usaha dibangun lebih dahulu untuk menghasilkan pendapatan, sementara ide bisnis dan model pengembangan usaha sering kali belum menjadi prioritas.
Kondisi tersebut membuat banyak usaha mikro dan usaha rumah tangga hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Pada tahap berikutnya, pelaku usaha menghadapi tantangan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, hingga memperbesar skala bisnis.
“Sejak awal, kebutuhannya dulu daripada ide bisnis yang utama. Itulah sebabnya banyak usaha mikro, usaha rumah tangga yang sekadar ada karena buat ‘nyambung hidup’,” jelasnya.
Karena itu, Dewa menilai pendampingan menjadi penting agar UMKM tidak berhenti pada tahap usaha subsisten. Pelaku usaha perlu didorong untuk meningkatkan kapasitas dan menemukan model bisnis yang memungkinkan usaha berkembang secara berkelanjutan.
Menurut Dewa, peluang untuk naik kelas sebenarnya terbuka ketika pelaku UMKM mampu menemukan model bisnis yang tepat dan kemudian melakukan ekspansi. Namun, kondisi tersebut belum tentu bisa dicapai seluruh pelaku usaha secara mandiri.
“Tidak semua memiliki kapasitas atau keberuntungan untuk menemukan model bisnis UMKM yang potensial untuk dikembangkan,” katanya.
Baca Juga: Punya UMKM? Ini 5 Mindset yang Wajib Kamu Punya biar Usaha Naik Kelas
Perbedaan kapasitas tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu pelaku usaha.
Dukungan ekosistem, akses pasar, peningkatan kapasitas, serta pendampingan yang terstruktur dibutuhkan agar usaha yang awalnya dibangun untuk bertahan hidup dapat berkembang menjadi bisnis dengan skala yang lebih besar.
Dengan demikian, keberhasilan UMKM untuk naik kelas tidak semestinya bergantung pada keberuntungan menemukan model bisnis yang tepat. Intervensi dan pendampingan yang berkelanjutan diperlukan untuk membantu pelaku usaha mengubah usaha berbasis kebutuhan menjadi usaha yang mampu tumbuh dan menciptakan nilai ekonomi lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














