Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) diproyeksikan meningkat hingga 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Meski BI saat ini menahan suku bunga di level 5,75%, risiko pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya tekanan inflasi masih membuka ruang bagi pengetatan kebijakan moneter.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai, berbagai insentif yang digulirkan BI untuk menjaga stabilitas rupiah dapat membantu meningkatkan daya tarik investasi di pasar domestik. Namun, kebijakan tersebut belum tentu cukup untuk mengimbangi peningkatan risiko eksternal yang memengaruhi keputusan investor.
Baca Juga: BGN Kembalikan Rp 160,37 Miliar ke Kas Negara dari Total Temuan BPK Rp 196,17 Miliar
"Kami masih melihat potensi BI-Rate meningkat menuju 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan eksternal berlanjut," ujar Faiz kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, insentif untuk transaksi lindung nilai atau hedging dapat memperbaiki daya tarik investasi setelah investor memperhitungkan biaya lindung nilai. Meski demikian, efektivitas insentif tersebut tetap bergantung pada besarnya premi risiko yang harus ditanggung investor di tengah ketidakpastian global.
Jika premi risiko meningkat dan arus modal masuk melemah, insentif yang diberikan BI berpotensi tidak cukup untuk menjaga daya tarik aset domestik. Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga dapat menjadi salah satu opsi untuk menopang daya tarik aset berdenominasi rupiah sekaligus meredam tekanan terhadap nilai tukar.
Faiz menilai, keputusan BI mempertahankan suku bunga saat ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi dampak kebijakan yang telah ditempuh sebelum mengambil langkah pengetatan lebih lanjut. Terlebih, inflasi inti yang masih terkendali memungkinkan BI mencermati perkembangan risiko eksternal tanpa harus segera menaikkan suku bunga.
Namun, ruang tersebut dapat menyempit apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung berkepanjangan, pembiayaan eksternal melemah, ekspektasi inflasi meningkat, atau tekanan terhadap cadangan devisa semakin besar.
Kondisi tersebut akan memperkuat alasan bagi BI untuk menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan tekanan inflasi.
Baca Juga: Cegah Karhutla Lanjutan, BPGMN Targetkan Perbaikan 7.000 Sumur Bor hingga Tahun Depan
Sebaliknya, kebutuhan pengetatan dapat berkurang apabila kondisi eksternal membaik. Meredanya ketegangan geopolitik, turunnya harga minyak, serta membaiknya kondisi keuangan global berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah dan memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga lebih lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














