kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Berakhirnya Lockdown China Perbaiki Masalah Rantai Pasok Global


Kamis, 26 Januari 2023 / 18:26 WIB
Berakhirnya Lockdown China Perbaiki Masalah Rantai Pasok Global
ILUSTRASI. Pembukaan kembali China setelah kebijakan Nol Covid-19, akan berkontribusi menekan inflasi global. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/YU


Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, pembukaan kembali China setelah kebijakan Nol Covid-19, akan berkontribusi menekan inflasi global. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kembali meningkatnya aktivitas ekonomi di China akan memperbaiki masalah rantai pasok global. 

"Pembukaan kembali China akan mengurangi tekanan global dalam hal rantai pasok. Terutama, ada logistik," tutur Perry dalam pembukaan BI Annual Investment Forum, Kamis (26/1). 

Baca Juga: Pariwisata Pulih, Saham Perusahaan China di Bursa Hong Kong Lanjut Reli

Perry bilang, dengan China mulai membuka diri, maka logistik pengiriman barang akan lebih lancar. Terlebih, logistik sempat tersendat akibat ketegangan geopolitik. Dengan demikian, harapannya, tekanan harga di pangan dan energi akan mulai melandai pada tahun 2023. 

"Kalau kami melihat dalam jangka pendek, ini akan memberi dampak melandainya harga pangan, terutama di negara berkembang," tambahnya. 

Selain disrupsi rantai pasok yang berkurang, pembukaan ekonomi China juga akan menyundut perekonomian global. Terlebih, China memegang porsi kurang lebih 15% terhadap produk domestik bruto (PDB) dunia. 

Baca Juga: Bos BI Sebut China Bisa Jadi Penyelamat Resesi Global, Tapi Ada Syaratnya

Kata Perry, bila China berhasil tumbuh sekitar 5% YoY hingga 5,2% YoY, maka ini akan bisa menjadi pengganti pertumbuhan Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris yang terancam resesi. 

Namun hingga saat ini, Perry memperkirakan perekonomian China 2023 tumbuh sebesar 3,6% YoY. Bila pembukaan kembali China berjalan dengan mulus, maka China mungkin tumbuh di kisaran 5% YoY. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×