kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.719   -99,00   -0,56%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Bank Dunia: Indonesia perlu menambah rasio belanja sebesar 4,6% dari PDB


Kamis, 25 Juni 2020 / 09:35 WIB
ILUSTRASI. JAKARTA,14/03-KAWASAN PT Danayasa Arthatama Tbk (SCDB) . Gedung perkantoran di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta, Selasa (14/03). KONTAN/Fransiskus Simbolon/14/03/2017


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Dunia (World Bank) berdasarkan hasil kajian bertajuk 'Public Expenditure Review: Spending for Better Results' menyatakan, untuk dapat merealisasikan target pembangunan Indonesia, maka pemerintah diperkirakan perlu menambah alokasi belanja negara sebesar 4,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun.

Target pembangunan yang dimaksud ini, sebagaimana tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Di dalam RPJMN, pemerintah menargetkan tujuh agenda pembangunan.

Baca Juga: IMF : Pandemi corona merontokkan ekonomi global lebih besar dari perkiraan

Diantaranya adalah memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan, mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan, meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, dan revolusi mental dan pembangunan kebudayaan.

Kemudian memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar, membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta memperkuat stabilitas polhukhankam dan transformasi pelayanan publik.

"Untuk merealisasikan target pembangunan Indonesia, perkiraan indikatif (pra-Covid-19) menunjukkan diperlukan belanja tambahan sebesar 4,6% dari PDB per tahun, yang akan menjadi lebih sulit untuk dicapai dengan adanya dampak Covid-19 terhadap posisi fiskal," sebagaimana dikutip dalam kajian, Kamis (25/6).

Baca Juga: Warning IMF: Anjloknya pertumbuhan global lebih buruk dari prediksi

Di dalam kajian tersebut dijelaskan, jumlah ini adalah perkiraan indikatif tingkat belanja yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat layanan minimum di dalam bidang kesehatan, bantuan sosial (bansos), dan infrastruktur.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×