Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jumlah korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan daring (scam center) di Asia terus meningkat. Warga negara Indonesia (WNI) menjadi salah korban terbanyak.
Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mengungkapkan, hingga 300.000 orang diduga dipaksa bekerja di kompleks penipuan daring yang tersebar di Myanmar, Kamboja, dan Laos.
Kompleks-kompleks penipuan berskala besar tersebut menjalankan berbagai modus kejahatan siber yang menargetkan korban di berbagai negara, terutama kalangan lanjut usia di negara-negara Barat. Nilai kerugian yang ditimbulkan pun mencapai ratusan miliar dollar AS setiap tahunnya.
Mengutip data Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), IOM menyebut kerugian akibat penipuan daring di Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru sepanjang 2025 mencapai 114 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 2.052 triliun.
Namun, di balik besarnya nilai kerugian tersebut, IOM menegaskan bahwa sebagian besar orang yang bekerja di pusat-pusat penipuan itu juga merupakan korban perdagangan manusia.
Mereka direkrut melalui iklan lowongan pekerjaan palsu yang menawarkan gaji dan fasilitas menggiurkan. Sasaran utamanya adalah pencari kerja yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan latar belakang pendidikan yang baik.
Setelah menerima tawaran pekerjaan, korban dibawa ke lokasi kerja dan dipaksa menyerahkan dokumen pribadi mereka. Selanjutnya, mereka dipaksa menjalankan operasi penipuan daring di bawah ancaman kekerasan fisik, intimidasi, hingga penyiksaan.
Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, mengatakan para korban kerap menghadapi stigma sosial, terlilit utang, hingga mengalami trauma mendalam akibat kekerasan seksual dan kurungan dalam sel isolasi.
"Orang-orang yang terjebak di kompleks penipuan daring merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa melakukan tindak kejahatan lewat kekerasan, ancaman, dan pemaksaan," ujar Pope dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Ia menegaskan, diperlukan kerja sama internasional untuk membantu para penyintas, memburu pelaku perdagangan manusia, dan menutup celah yang selama ini dimanfaatkan jaringan kriminal lintas negara.
"Kita harus bekerja sama untuk mendukung para penyintas, menghentikan para pelaku perdagangan manusia, dan menutup celah-celah yang selama ini dimanfaatkan jaringan kriminal tersebut," tambahnya.
Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran, Bidik Perusahaan Asuransi hingga Kapal Tanker
WNI Jadi Salah Satu Korban Terbanyak
Amy Pope memperkirakan korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di scam center berasal dari lebih dari 80 negara di dunia. Meski jaringan utamanya berada di Asia, perkembangan media sosial membuat pelaku semakin mudah menjaring korban dari berbagai negara.
"Jaringan-jaringan utama memang berbasis di Asia, tetapi berkat media sosial dan kemampuan untuk menjangkau orang-orang di begitu banyak negara, cakupan operasi mereka kini telah berkembang secara signifikan," ujarnya.
IOM mencatat telah memberikan bantuan kepada lebih dari 3.500 korban perdagangan manusia sepanjang periode 2022 hingga 2025. Para korban berasal dari hampir 40 negara.
WNI menjadi salah satu kelompok korban yang paling banyak menerima bantuan, bersama warga India, Sri Lanka, Etiopia, Kenya, dan Bangladesh.
Sebagian korban berhasil melarikan diri dari kompleks penipuan tersebut atau dibebaskan melalui operasi penggerebekan yang dilakukan aparat pemerintah di berbagai negara. Meski demikian, sebagian korban masih menghadapi ancaman tuntutan hukum ketika kembali ke negara asalnya karena dianggap terlibat dalam aktivitas penipuan.
Pope juga memberikan apresiasi kepada sejumlah pemerintah, termasuk Thailand, yang semakin aktif mengidentifikasi dan memberantas pusat-pusat penipuan daring di kawasan Asia Tenggara.
Tonton: APBN Biayai Gaji Manajer Koperasi Merah Putih 2 Tahun, Setelah Itu Harus Mandiri
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa masih banyak scam center yang beroperasi di wilayah terpencil dengan pengawasan hukum yang lemah sehingga membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat.
IOM pun menyerukan dukungan berkelanjutan bagi korban perdagangan manusia, mulai dari perlindungan hukum, pemulangan yang aman, hingga reintegrasi sosial setelah kembali ke negara asal.
Selain itu, peningkatan kesadaran publik mengenai modus perekrutan pelaku juga dinilai penting untuk mencegah semakin banyak orang menjadi korban.
"IOM menyerukan dukungan berkelanjutan untuk membantu korban perdagangan manusia melalui perlindungan, pemulangan yang aman, dan reintegrasi, sambil mendorong peningkatan kesadaran publik mengenai taktik para pelaku, sehingga masyarakat dapat mengenali risiko dan mengetahui ke mana harus mencari bantuan," demikian pernyataan IOM.
Maraknya praktik perdagangan manusia berkedok lowongan kerja ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan penghasilan tinggi tanpa proses rekrutmen yang jelas. Verifikasi legalitas perusahaan dan informasi pekerjaan menjadi langkah penting untuk menghindari jebakan jaringan kejahatan transnasional tersebut.
Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/07/30/050000470/peringatan-pbb-pusat-scam-asia-makin-marak-pekerja-capai-300.000-orang?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














