kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.110   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

Anggota DPR : BI dan Menkeu mata duitan


Kamis, 12 Agustus 2010 / 13:49 WIB


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Arif Budimanta, anggota Komisi Perbankan dan Keuangan DPR, menilai Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mata duitan. Sebab, kedua pihak tersebut kini tengah berebut tanda tangan dalam pencetakan mata uang rupiah.

"Kalau masalah duit saja, mereka rebutan. Tapi, soal ledakan tabung gas, tidak ada yang mau bertanggung jawab," kata Arif Budimanta, Wakil Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Kamis (12/8).

Menurutnya, mestinya kedua pihak tersebut menjalin kerjasama erat. Sebab, setiap lembaga mempunyai peranan masing-masing dalam pembangunan perekonomian. "Kementerian Keuangan punya wewenang dalam kebijakan fiskal sedangkan Bank Indonesia di bagian moneter," kata Arif.

Makanya, daripada berebut tanda tangan, Arif menyarankan keduanya berkoordinasi. "Soal tanda tangan hanya masalah sepele, mestinya pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga jadi tujuan utama," kata Arif.

Catatan saja, dalam pengajuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Mata Uang, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengajukan beberapa permintaan. Pihak Lapangan Banteng ingin terlibat dalam perencanaan, pembuatan, pendistribusian, hingga penghancuran uang. Selain itu, pemerintah juga ingin ikut tanda tangan di setiap lembaran uang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×